6 Jan 2011

TERNYATA WAHABY ANTEK BELANDA


mina alladziina farraquu diinahum wakaanuu syiya’an kullu hizbin bimaa ladayhim farihuuna

[30:32] yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka (tauhidnya menyimpang seperti mujasimmah dan musyabihah/mensifati Allah dengan sifat makhluq) dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

WAHABY PATWAKAN KHAMAR TIDAK NAJIS

Jumhur ulama, termasuk imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad rahimahumullah) berpendapat bahwa khamr adalah najis. Dan ini dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Muhammad abduh, yusuf Qardawi dan semua Ulama sunni…
dalam fiqh syafeiyah :
- jika ada tempat (wadah) bekas khamr, walaupun khamr itu telah kering (menguap) maka jika untuk menggunakannya (untuk tempat makan/minum) harus mencucinya, maka jika tidak…makanan/minuman dalam wadah itu kena hukum haram.
- wajib menyucikan diri darinya dan wajib mencuci pakaian atau badan yang terkena khamr.
untuk jelasnya :
Mari kita lihat tentang Bab Najis.
1. Dalam kitab “ihya ulumuddin” jilid I/458, Bab “Rahasia Bersuci”, Bagian pertama “tentang bersuci daripada najis”.
Segi pertama : Mengenai apa yang dihilangkan

Yang dihilangkan adalah najis
Benda itu tiga : benda tidak bernyawa (jamaadat), hewan dan bahagian-bahagian daripada badan hewan.
Adapun benda yang tidak bernyawa : maka semuanya suci selain khamr dan tiap-tiap yang berasal dari buah anggur kering yang memabukan.

Hewan itu semuanya suci, selain anjing, babi dan anak dari keduanya atau salah satu dari keduanya.
Apabila hewan itu mati, maka najis semuanya, kecuali lima : manusia, ikan, belalang, ulat buah-buahan. Dan dipandang seperti itu, tiap-tiap makanan yang berubah.
tiap-tiap yang tidak mempunyai darah yang mengalir, seperti lalat, lipas dan lain-lain, maka tidaklah najis air jatuhnya ke dalam air.
(kitab “ihya ulumuddin” jilid I/458, Bab “Rahasia Bersuci”, Bagian pertama “tentang bersuci daripada najis”, pustaka nasional, singapura, 1988)
2. Fiqh syafei, jilid I halaman 23, Bab Najis dan Tafsir Muhammad Abduh
(saya ringkas karena dalil dan penjelasannya sangat banyak)….
Najis ada tiga :
1. Najis Mughaladhah (najis yang tebal/berat) seperti anjing, babi, anak dari keduanya
2. Najis mukhaffafah, artinya najis yang ringan seperti kencing bayi yang belum makan (masih menyusu)
3. Najis mutawasittah, artinya najis yang pertengahan…(khamr masuk dibagian ini…)
Bagian 3. Najis mutawasittah, artinya najis yang pertengahan

Adapun najis mutawasittah terbagi menjadi dua, yaitu ainiyah (yang kelihatan mata) dan hukmiyah (yang tidak kelihatan mata).
Contoh Najis hukmiyah (yang tidak kelihatan) yaitu kencing (baul) orang dewasa yang sudah kering, yang salah satu sifatnya tidak didapati lagi. Maka cara mensucikannya cukuplah dengan melakukan (menumpahkan) air keatasnya sekali sahaja, wadah khamr yang sudah kering termasuk najis hukmiyah,
cara menghilangkannya cukup menyiramkan air satu kali

Sedang cara mensucikan najis ainiyah itu ialah dengan jalan membasuh yang menghilangkan sifat-sifat najis tersebut. Tetapi apabila keduanya bau dan warna itu masih tinggal belumlah dinamakan suci. Adapun macam-macam najis mutawasittah itu ialah :
1. Kencing (baul) orang dewasa
2. ghaith (tahi), juga tahi burung, ikan, belalang, tau tahi binatang yang tak berdarah mengalir.
3. Darah
4. nanah
5.Muntah
6. Mazi
7.Madi
8. Mayat/bangkai (selain mayat belalang, ikan dan manusia)
9. Air luka
10. Susu binatang yang haram dimakan dagingnya kecuali susu manusia.
11. Daging yang dipotong selagi hidup.
12. Khamr (arak) atau minuman yang memabukan.
Khamr menurut imam syafei adalah najis berdasarkan ayat di bawah ini :
“sesungguhnya arak, judi, berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan kotor (keji : rijsun), ia termasuk pekerjaan setan, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhinya”. (Al-maidah, ayat 90)
Berkata imam zujaj : “Rijis pada lughat, ialah nama bagi tiap apa yang kotor (keji) dari pekerjaan maupun perbuatan. Dan sesungguhnya didalam al-qur’an disebutkan banyak ayat yang mengenai “najis” yang tidak ada tempat yang nyata padanya “kotoran menurut hissi (perasaan)”, hanya tersebut dalam firman Allah :
“Katakanlah wahai Muhammad SAW : Tidak aku peroleh pada yang diturunkan kepadaku sesuatu makanan yang diharamkan atas orang yang memakannya, kecuali bangkai, darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya itu barang yang keji (najis : rijsun) atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. (Al- an’am ayat 145)
(Tafsir Muhammad Abduh, juz 7 hal. 57)
Sedangkan menurut ahli usul : memakaikan satu kalimat untuk seluruh makna adalah dibolehkan.
Oleh sebab itu Babi maupun Khamr disebut diatas dapat diartikan “keji (rijsun)” dan dalam kata-kata keji itu termasuk najis, baik menurut maknanya maupun menurut hissi.
Dengan demikian larangan memakan atau meminumnya, bukan hanya arak/khamr memabukan  atau mengandung cacing pita yang tidak dapat mati karena api, tetapi juga karena kedua-duanya adalah NAJIS.
Berkata Imam Ar-Raghib : ” Najis itu adalah sesuatu yang kotor, yang dapat ditinjau dari empat segi. Adakalanya dari segi tabiat (sifatnya), adakalanya dari segi akal, adakalanya dari segi syarat, dan adakalanya dari semua segi diatas. Seperti mayat. Maka sesungguhnya mayat itu dipandang jijik menurut tabiat, nafsu,akal dan menurut syarat. Sedang judi dan Khamr dipandang NAJIS DARI SEGI SYARAT.
(Tafsiran Muhammad Abduh,  juz 7 halaman 158 ) dan (Fiqh syafei, jilid I/26,Bab Najis,Pustaka Antara, Kuala Lumpur,1989).
3. Menurut Prof Dr alQaradawi Khamr adalah Najis
Ini juga pendapat Prof Dr alQaradawi dlm Fatawa Mua\’asirat.Perbahasan ulama\’ dalam bab najis sebenarnya tertumpu pada khamar bukan alkohol (anNawawi, alMajmoo\’: 2/516).
4. Menurut Lembaga Fatwa Al-AzharKhamr adalah Najis
Lembaga Fatwa Al-Azhar berpendapat bahawa alkohol (yang hukan dari industry khamr) itu tidak najis manakala arak tetap najis. Setelah membincangkan perkara ini dengan panjang lebar maka jawatankuasa mengambil keputusan bahawa minuman ringan yang dibuat sama caranya dengan arak adalah haram.
Alkohol yang terjadi sampingan dalam proses pembuatan makanan tidak najis dan boleh di makan. Ubat-ubatan dan pewangi yang ada kandungan alkohol adalah harus dan dimaafkan. Berdasarkan fatwa dari Sheikh Atiyyah Saqr, Mesir, alkohol yang terdapat dalam minyak wangi tidak menghalang dari sahnya sembahyang. Menurutnya, alkohol tersebut tidak najis kerana ia bukan digunakan untuk dijadikan minuman keras.
5. JAKIM – MALAYSIA DAN MUI (Majelis Ulama Indonesia) – Indonesia
Khamr adalah haram dan NAJIS. Sedangkan alcohol yang bukan berasal dari industri khamr adalah suci, tetapi jika ia dimasukan dengan sengaja ke dalam suatu minuman maka minuman itu haram hukumnya.
maaf kami sekedar membuktikan fatwa aliran wahaby bahwa khamr itu suci adalah fatwa menyesatkan…dan sengaja diperuncing untuk memecah belah barisan sunni….waspadalah…
hukum khamr iaitu najis mutasawittah, baru kita membahas mengenai alkohol dengan lebih berhati-hati (terutama copy paste dari situs-situs wahaby)
_________________________________________
Pendapat sesat wahaby :
Asy-Al-Albani, dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin , bin Baz
lihat kata-kata albany :
Syaikh Al-Albani berkata dalam Tamamul Minnah hal. 55 dan As-shahihah (5/460)
rujuk : http://www.ikhwan_interaktif.com/islam/?pilih=news&aksi=lihat&id=1733
dan artikel sesat wahaby indonesia : Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari
http://asy-syariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=311

mereka menghukumi khamr adalah suci!
mereka mengaburkan pengertian alkohol dan khamr sehingga seolah-olah semua alkohol adalah khamr…hati-hatilah!
_______________
mana alkohol yang tergolong KHamr?
mungkin ini sedikit menjelaskan :
Fatwa MUI Indonesia dan JAKIM Malaysia :
alcohol yang bukan berasal dari industri khamr adalah suci, tetapi jika ia dimasukan dengan sengaja ke dalam suatu minuman maka minuman itu haram hukumnya.
lebih jelasnya :
DISEDIAKAN OLEH
NAMA: MUHAMAD AALI HANAFIAH BIN RAMELI
NO MTATRIK : IEJ 070044
عن ابن عمر أن رسول الله صل الله عليه وسلم قال من شرب الخمر فى
الدنيا ثم لم يتب منها حرمها فى الاخرة.
رواه بخاري
Maksudnya: Dari Abdullah Bin Umar r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : ‘Siapa yang minum minuman keras di dunia dan ia tidak bertaubat dari kesalahannya ini, Maka ia tidak akan memperoleh nya nanti di akhirat.(Riwayat Bukhari)
Definasi Arak
Ø Arak(al-khamr) ialah minuman yang memabukkan yang diperbuat daripada perahan buah-buahan yang diperam.
Ø Dinamakan al-khamar (tutupan) kerana ia menutup akal manusia yang waras.
Jumhur Fuqaha’ tidak pula membezakan antara arak dan minuman lainØ yang memabukkan, mereka mengatakan setiap minuman tersebut adalah haram diminum sedikit atau banyaknya, dan ia adalah arak (khamar). Hukumnya sama seperti hukum manisan buah anggur dari segi pengharamanya, dan diwajibkan had terhadap peminumnya. Nabi Muhammad s.a.w bersabda:
كل مسكر خمروكل خمر حرام

“setiap yang memabukkan adalah arak, dan setiap arak adalah haram.
Ø Khamar adalah bahan yang mengandungi alkohol yang memabukkan.
Nama lain bagi arak ialah alkohol. Dari segi kimia, alkoholØ adalah satu keluarga hidrokarbon dengan formula asas R-OH. R adalah rantai hidrokarbon dan kumpulan OH bertanggungjawab membawa sifat alkohol. Alkohol dinamakan dengan sambungan “nol” dihujung perkataan. . Contoh :CH3-OH : Metanol, CH3CH2 – OH : Etanol, CH3(CH2)2-OH : Propano dan CH3(CH2)3-OH : Butanol.
Fiqh hadis
Secara umumnya dalam hadis ini menjelaskan kepada kita tentangv haramnya meminum minuman keras iaitu arak. Baik meminumnya dengan kadar yang banyak ataupun sedikit.
Bagi mereka yang telah terlanjur melakukan dosa besar ini, makav wajib ke atas mereka untuk bertaubat dan tidak akan sesekali melakukannya lagi.Ini membuktikan bahawa mereka telah insaf kerana telah meminum arak sebelum ini yang telah diharamkan oleh Allah meminumnya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis tersebut, sekiranyav peminum arak yang tidak bertaubat untuk meninggalkan minuman arak, maka Allah mengharamkan sama sekali kepada mereaka meminumnya di akhirat kelak.
Menurut satu riwayat daripada Imam Abu Hanifah yang turutv menjelaskan bahawa arak merupakan najis mughalazah yang diharamkan sama sekali bagi sesiapa yang meminumnya.
Oleh yang demikian diharamkan meminum arak walaupun sedikitv kecuali sekiranya dalam keadaan terpaksa dan juga ketika darurat. Untuk kesekian kalinya Islam tetap bersikap tegas terhadap masalah arak. Tidak lagi dipandang kadar minumannya, sedikit atau banyak. Kiranya arak telah cukup dapat menggelincirkan kaki manusia. Oleh karena itu sedikitpun tidak boleh disentuh.
Justru itu pula Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan:
“Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan, maka sedikitnya pun adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)
“Minuman apapun kalau sebanyak furq6 itu memabukkan, maka sepenuh tapak tangan adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)
Seterusnya pengharaman arak itu bukan sahaja kepada orang yangv meminumnya, bahkan ia meliputi kepada apa jua bentuk pertolongan yang boleh membawa kepada peminuman arak, kerana dosa menolong kepada berlakunya peminuman arak, walaupun dia tidak meminumnya, samalah juga dosanya seperti orang yang meminum arak.
Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah melaknatnya, yaitu seperti tersebut dalam riwayat di bawah ini: “Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan:
(1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
Setelah ayat al-Quran surah al-Maidah (90-91) itu turun, Rasulullah s.a.w. kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan arak, maka barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan dia masih mempunyai arak walaupun sedikit, jangan minum dan jangan menjualnya.” (Riwayat Muslim)
Maka dengan ini adalah jelas bahawa haram memberi pertolongan kepada penyebaran (meromosi) minuman tersebut, wamplaupun kita tidak berniat sedemikian. Hukum ini samalah juga memakai baju yang memaparkan lambang jenama minuman keras, kerana ada unsur redha dan mengajak kepada peminuman minuman itu.
Jumhur ulamak yang empat telah sepakat menyatakan bahawa haramnyav penggunaan bahan yang memabukkan dalam perubatan dan juga tujuan yang lain sebagaimana yang telah diharamkan oleh syarak.
Abu bakar Al-Jazairi dalam kitabnya Minhajul muslim menegaskanv keharaman dari khamar baik sedikit maupun banyak, penisbatan ini berdasarkan dalil-dalil yang Qothi .Qs. Al-Maidah; 90-9).
Sifat-sifat arak dan al-kohol.
Memabukkan. Sifat yang jelas bagi arak ialah memabukkan bagiü peminumnya sama ada dengan kadar sedikit ataupun dengan kadar yang banyak. Mabuk tersebut menyebabkan hilangnya kewarasan akal untuk menimbang segala perbuatan yang baik atau buruk.
ü Sangat mudah meraup kerana takat didih yang rendah. Etanol (+/- 78oC). Inijuga bergantung kepada bilangan karbon.
ü Kebolehan melarut dalam air dan pelarut organik. Ini juga bergantung kepada bilangan karbon.
Takat beku rendah (ü< Sangatü Kebanyakkan beracun. ü0oC). mudah terbakar, kebolehan untuk terbakar bergantung kepada bilangankarbon dalam alkohol. Lebih banyak karbon maka lebih susah untuk terbakar.Metanol dan etanol terbakar dalam nyalaan api berwarna kebiruan.
Kesan minum arak dan alkohol. Alkohol bukan sahaja boleh memabukkan, tetapi juga mampu memudaratkan kesihatan diri sekiranya diamalkan berterusan. Ia umpama kombinasi dadah dan racun kepada badan kita. Malahan hampir setiap agama di dunia ini turut melarang tabiat tersebut di kalangan para penganutnya. Kesan ketagihan akibat meminum alkohol bukannya bergantung kepada jenis alkohol tetapi jumlah yang diminum pada satu-satu masa.
Pada dasarnya terdapat dua kesan yang ketara pada penagih alkohol iaitu kesan jangka pendek dan jangka panjang. Kesan jangka pendek pengambilan alkohol lebih kurang satu botol besar menjadikan seseorang itu kurang daya koordinasi seperti tidak boleh berjalan dengan betul dan tidak boleh membuka pintu. Dalam masa yang singkat ini juga boleh menyebabkan hangover. Hangover lazimnya disebabkan oleh keracunan alkohol, bahan lain dalam alkohol dan tindakbalas ketagih alkohol.
Tanda-tanda hangover alkohol termasuklah sakit kepala, loya, muntah, cirit birit, gangguan pergerakan usus dan menggeletar selama 8 – 12 jam kemudian Kesan jangka panjang akan dirasai selepas meminumnya selama beberapa bulan atau tahun. Kesan utama adalah seperti sakit jantung, hati atau penyakit dalam perut. Bila situasi ini berlaku mereka akan kurang selera makan, kekurangan vitamin, jangkitan penyakit, mati pucuk atau kekurangan haid. Kematian yang awal adalah lebih kerap pada orang yang kuat minum, terutamanya daripada sakit jantung atau hati, radang paru-paru, kanser, keracunan alkohol yang teruk, kemalangan, pembunuhan dan pembunuhan diri.
Kesan pada otak

1) Selepas minum, alkohol akan meresap dari usus kecil ke dalam darah. Alkohol terus dibawa ke jantung yang kemudiannya mengepam darah beralkohol tadi ke seluruh tubuh. Dari sini ia terus meresap ke dalam otak dan seterusnya ke urat saraf. Otak merupakan salah satu organ penting yang dimiliki oleh manusia kerana otaklah yang mengawal segala pergerakan dan perlakuan seseorang dan dengan kemasukan bahan asing ini ke dalamnya ia akan mempengaruhi pergerakan dan kelakuan peminumnya.
2) Menyebabkan berlakunya penindasan kawasan-kawasan yang biasanya mengawal maruah dan disiplin diri sehingga peminum mula merasa kurang sifat malu, fikiran bercelaru, dan pergerakannya pula agak tidak terkawal.
3) Kurang keupayaan dari segi belajar, membentuk idea spontan, menumpukan fikiran, dan membuat pertimbangan yang teliti. Semakin banyak jumlah alkohol yang diminum semakin kuat otak tertindas sehinggakan boleh menyebabkan tidak sedarkan diri dan seterusnya kematian.
Kesan pada hati

1) Setiap kali seorang peminum meminum alkohol, hati akan mengalami kecederaan (mendapat luka). Sel hati akan mati dan menjadi parut. Parut ini akan mengurangkan kemampuan hati untuk berfungsi dengan sempurna. Parut yang serius akan menyebabkan hati tidak dapat berfungsi langsung. Keadaan ini disebut sirosis hati dan boleh membawa maut.
2) Bengkak hati (hepatitis) juga boleh berlaku disebabkan oleh lebihan toksik alkohol. Pada mulanya ia menyebabkan hati mengembang dan lama kelamaan saluran darah akan mengecut. Ini menyebabkan darah tidak dapat mengalir ke hati dengan sempurna dan akhirnya saluran darah akan membengkak lalu pecah. Pada peringkat kritikal, penghidap hepatitis akan mengalami muntah darah dan najis mereka akan bercampur dengan darah. Kesan pada perut Alkohol menyebabkan kerengsaan perut (gastritis) yang akhirnya boleh membawa kepada ulser. Bagi mereka yang memang menghidapi ulser perut, sakitnya akan menjadi semakin teruk.
Kesan pada saraf

1) Boleh menyebabkan pelbagai jenis penyakit seperti sindrom Wernicke-Korsakoff dan kerosakan sel-sel otak, yang seterusnya membawa kepada komplikasi psikiatri. Peminum boleh mengalami halusinasi pendengaran, amnesia, paranoia, depresi dan kecenderungan membunuh diri.
Kesan pada janin

1) Peminum alkohol kronik yang sedang hamil boleh menyebabkan kandungannya mempunyai ciri-ciri kecacatan seperti kekurangan berat badan, saiz kepala yang terlalu kecil berbanding tubuh, kurang penyelarasan otot, keadaan muka yang rata, dan kelemahan sendi-sendi.
2) Bertindak dengan pelbagai sistem dan organ tubuh. Contohnya, kesan terhadap sistem peredaran tubuh menyebabkan darah lebih banyak dialirkan ke kulit. Ini menyebabkan kulit peminum menjadi kemerah-merahan dan perpeluhan meningkat. Pengepaman jantung juga bertambah pantas dan kuat seperti individu yang sedang melakukan senaman. Kepada penghidap penyakit jantung, mereka mempunyai kemungkinan diserang penyakit itu.
3) Lebih cenderung membuang air kecil dengan kerap kerana etanol boleh merencat hormon penahan kencing.
4) Mungkin mengalami anemia, hipoglisemia (kekurangan gula di dalam darah), dan ketandusan vitamin.
5) Boleh meningkatkan risiko kanser sebanyak 15 kali terutamanya pada bahagian mulut dan tekak.
6) Boleh juga menimbulkan pelbagai masalah sosial. Masalah ketagihan alkohol boleh merosakkan hubungan persahabatan, kehilangan pekerjaan, hutang, simpanan keluarga dihabiskan, masalah rumah tangga, penganiayaan, penderaan, keruntuhan moral dan sebagainya.
Alkohol boleh didapati dari pelbagai sumber, iaitu secara semula jadi, dari proses penapaian (fermentation), dari proses pereputan bahan organik, dari proses tindak balas petro-kimia dan dari arang batu. Kebanyakan alkohol asas dalam keluarga alkohol bersifat sebagai “RACUN” kecuali etanol. Sebagai contoh, etanol boleh dimakan dalam kuantiti kecil dan tidak memudaratkan, tetapi spirit (nama kimia metanol) dalam kuantiti kecil amat toksik jika dimakan.
Keadaan ini sama bila kedua-dua alkohol ini bertukar menjadi asid karbosilik (R-COOH). Metanol akan menjadi asid metaniok (cuka getah) dan etanol akan menjadi asid etanoik (cuka makan). Rasanya tidak perlu dijelaskan bagaimana kesan toksik akibat cuka getah. Analisis isu semasa Makanan Halal Haram.
Nasi Ayam perisa arak???
KUALA LUMPUR: Segelintir peniaga nasi ayam di sekitar ibu kota, dikesan sengaja mencampurkan arak atau samsu dalam resipi masakan tanpa disedari pelanggan Islam menyebabkan ramai penggemar masakan itu termakan hidangan haram. Perbuatan tidak bertanggungjawab itu dipercayai membabitkan hidangan ayam BBQ (panggang) yang diperap bersama wain hitam buatan China sebelum dipanggang.
Kaedah berkenaan dipercayai menambahkan kelazatan ayam panggang berkenaan selain membangkitkan aroma pada hidangan. Apa yang menyedihkan, tindakan itu jelas memperdayakan pengguna Islam, sekali gus menyebabkan mereka memakan makanan yang haram di sisi agama.
Sumber Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) berkata, ketika melakukan pemeriksaan di beberapa premis menjual nasi ayam, pihaknya pernah menemui beberapa botol arak di dapur restoran di ibu kota yang popular dengan hidangan nasi ayam panggang. Menurutnya, soal siasat dilakukan mendapati pekerja restoran mengaku mencampurkan arak atau wain daripada botol bertulisan Cina sebagai bahan perisa tambahan untuk menyedapkan masakan berkenaan.
“Kami dapati arak hitam terbabit mempunyai kandungan alkohol tinggi mencecah 48 peratus. Walaupun pemilik premis tidak mengaku mencampurkan arak berkenaan, ia bercanggah dengan kenyataan diberikan pekerjanya. “Malangnya, ramai pelanggan di kalangan orang Islam memilih restoran terbabit untuk menjamu selera tanpa menyedari `rahsia’ resipi haram yang tersembunyi,” katanya.
Menurutnya, tindakan beberapa pemilik premis yang menggaji pembantu restoran di kalangan wanita asing yang memakai tudung turut menyebabkan pelanggan terpedaya kerana beranggapan hidangan restoran itu halal dimakan.
“Penggunaan arak atau wain dalam masakan sering dianggap satu ramuan wajib dalam tradisi masakan sesetengah masyarakat. Bagaimanapun pengusaha restoran sepatutnya peka dan tidak mencampurkan bahan haram terbabit sebagai menghormati pengguna Islam,” katanya.
Selain itu, sumber ayam mentah yang diperoleh restoran milik pengusaha bukan Islam terbabit turut diragui kerana Jakim percaya ia bukan daripada sumber sembelihan yang halal dimakan.
“Malangnya tindakan undang-undang tidak boleh diambil berikutan pemilik restoran itu sememangnya tidak pernah memohon sijil atau logo halal daripada Jakim sebelum ini,” katanya.
Sementara itu, Pengarah Bahagian Kajian Makanan dan Barangan Gunaan Islam Jakim, Che Hassan Fahmi Che Mamat, berkata kesedaran di kalangan pengguna Islam terhadap sumber makanan yang dipilih dapat mengelakkan mereka daripada memakan makanan diragui status halal.
Bagaimanapun, katanya masalah timbul apabila pengguna Islam sendiri memandang remeh isu berkenaan dengan tidak mementingkan soal sama ada premis yang dipilih mereka pernah memohon atau memilik sijil halal daripada pihak berkuasa. “Jakim sememangnya tidak mempunyai kuasa untuk mengambil tindakan terhadap syarikat pengeluar makanan yang tidak memohon sijil halal walaupun ia dikesan menjual produk tidak halal di pasaran.
Hanya syarikat memiliki sijil halal Jakim yang sah atau memalsukan sijil atau logo halal Jakim boleh diambil tindakan undang-undang. “Adalah wajar setiap pengguna Islam lebih berhati-hati dalam memastikan setiap produk makanan sama ada yang sudah siap dibungkus mempunyai logo halal Jakim manakala restoran makanan pula mempamerkan sijil halal sah Jakim,” katanya.
Sementara itu, personaliti popular dan penyampai stesen radio Era yang juga pemilik restoran nasi ayam terkenal, My Mom’s Chicken Rice (MMCR), Rozlindah Onn, 28, atau lebih dikenali sebagai Linda Onn menyifatkan perbuatan segelintir peniaga meletakkan arak sebagai ramuan tambahan disifatkannya sebagai keterlaluan.
Menurutnya, sebagai penganut Islam beliau amat menitikberatkan aspek kebersihan selain memastikan punca ayam diperoleh daripada sumber halal. “Walaupun ada peniaga yang mencampurkan arak dalam resipi masakan, saya tidak sesekali berkompromi dalam soal ini yang jelas boleh mendatangkan dosa. “Sebelum ini saya mendapat tahu arak sering dicampurkan dalam masakan membabitkan hidangan daging steak di restoran atau hotel. Namun jika benar ia dicampurkan dalam nasi ayam, saya bimbang ramai pelanggan Islam teraniaya,” katanya.
Saranan:
a. Pengguna hendaklah prihatin dalam mencari makanan yang halal.
b. Tindakan yang konkrit sangat diperlukan untuk menangani masalah ini. c. Pengguna hendaklah memastikan logo halal benar-benar disahkan oleh JAKIM KESIMPULAN DAN RUMUSAN DARIPADA ANALISIS Arak tergolong dalam najis mutawassitah. Manakala bahan-bahan bukan arak yang mengandungi alkohol seperti yang terdapat dalam bahan citarasa minuman ringan ialah kerana sebagai bahan penstabilan dan untuk menahan pembiakan kuman
. Tanpa alkohol bahan citarasa ini akan tahan hanya antara 2 – 3 bulan sahaja. Apabila kordial dibancuhkan dalam minuman kandungan alkohol dalam minuman itu adalah lebih kurang 0.01%. Alkohol yang digunakan dalam bahan citarasa minuman ringan ini adalah daripada alkohol yang dihasilkan dari proses kimia.Menurut keputusan Fatwa Kebangsaan, kordial yang mengandungi bahan citarasa (flavour) yang dimasukkan alkohol untuk tujuan penstabilan adalah harus (boleh) digunakan untuk tujuan minuman sekiranya:
a) Alkohol itu bukan dihasilkan dari proses pembuatan arak.
b) Bahawa kuantiti alkohol dalam citarasa (flavour) itu adalah sedikit iaitu tidak memabukkan. Menurut Fatwa Majlis Fatwa Kebangsaan: Alkohol terdiri daripada berbagai-bagai bahan bahan kimia iaitu Ethanol atau ethyl alkohol, Bothanal dan lain-lain lagi.
Dalam minuman keras ethanol, ialah bahan yang menyebabkan mabuk dan ia merupakan bahanyang terbanyak sekali dicampurkan.
1) Setiap minuman arak mengandungi alkohol bukan alkohol itu dari arak. Alkohol dari proses pembuatan arak hukumnya haram dan najis, tetapi alkohol yang dibuat bukan melalui proses pembuatan arak maka hukumnya tidak najis dan tidak haram diminum.
2) Minuman ringan yang dibuat sama caranya dengan arak samaada mengandungi sedikit alkohol atau alkoholnya disulingkan adalah haram diminum.
3) Minuman yang dibuat bukan untuk dijadikan arak atau bukan yang memabukkan dan tidak sama caranya dengan proses arak adalah halal diminum.
4) Alkohol yang terjadi sampingan dalam proses pembuatan makanan tidak najis dan halal dimakan.
5) Ubat-ubatan dan pewangi yang ada kandungan alkohol adalah dimaafkan.
1. Penggunaan alkohol dalam bahan citarasa (Flavour) minuman ringan ini.
2. Proses pembuatan minuman ringan tidak sama dengan pembuatan arak, oleh itu minuman ringan halal diminum kerana ia tidak memabukkan dan tidak memberi mudharat kepada orang yang meminumnya. Menurut kitab\”AlFiqh Al-Muzahibil ar\’baah \” dalam bab \”An najasat juzu 1, Alkohol yang dimasukkan ke dalam minyak wangi untuk menahan minyak wangi agar tahan lama atau untuk menaikkan roti adalah harus.
Bersandarkan kepada kenyataan ini boleh dikiaskan kepada penggunaan alkohol dalam minuman ringan. Jawatan kuasa fatwa telah memberitahu bahawa alkohol ialah nama yang digunakan di dalam kaedah saintifik kepada sebatian yang mempunyai kumpulan (Ho).
Dua jenis alkohol yang paling baik ialah:
1. Methyl alkohol (Methanol) atau alkohol (kayu)
2. Ethily alkohol (Ethanol) atau alkohol biji-bijian.
Methyl alkohol (methanol) tidak digunakan untuk minuman kerana ia merupakan racun yang kuat, manakala ethly alkohol digunakan sebagai campuran di dalam minuman keras. Penyediaan alkohol boleh dibuat melalui dua cara, iaitu:
a. Penyediaan dalam makmal
b. Penyediaan dalam industri.
Alkohol amat berguna sebagai bahan aktif dalam minuman, makanan dan ubat-ubatan dan sebagai bahan pelarut seperti untuk bawa alat solek dan minyak wangi. Pada umunnya alkohol adalah bahaya dan beracun ia ada daya pembunuh dan memabukkan serta merosakkan anggota tubuh badan. Arak adalah memabukkan dan ia adalah haram seperti sabda nabi S.A.W \”Setiap yang memabukkan itu haram.
Setiap yang memabukkan arak. Setiap yang memabukkan itu arak dan setiap yang memabukkan itu haram.(HR Muslim)
Lembaga Fatwa Al-Azhar berpendapat bahawa alkohol itu tidak najis manakala arak tetap najis. Setelah membincangkan perkara ini dengan panjang lebar maka jawatankuasa mengambil keputusan bahawa minuman ringan yang dibuat sama caranya dengan arak adalah haram.
Alkohol yang terjadi sampingan dalam proses pembuatan makanan tidak najis dan boleh di makan. Ubat-ubatan dan pewangi yang ada kandungan alkohol adalah harus dan dimaafkan. Berdasarkan fatwa dari Sheikh Atiyyah Saqr, Mesir, alkohol yang terdapat dalam minyak wangi tidak menghalang dari sahnya sembahyang. Menurutnya, alkohol tersebut tidak najis kerana ia bukan digunakan untuk dijadikan minuman keras.
Illah (sebab) yang membawa kepada najisnya alkohol ialah kerana ia digunakan untuk dijadikan minuman keras. Dalam air wangi ia bukan untuk tujuan memabukkan berbeza hukum disebabkan berbeza illah (sebab). Sekiranya alkohol tersebut dibuat daripada unsur unsur yang halal, ia dibolehkan. Sekiranya ia dihasilkan daripada unsur-unsur yang haram maka ia tidak boleh dibawa solat.
Sepertimana juga hukum bagi menggunakan cuka tuak. Cuka tuak ini dihasilkan dari unsur halal, iaitu kelapa. Apabila mayang kelapa di \’sadat\’, maka terhasillah tuak. Tuak yang diperam tidak boleh diminum kerana ia memabukkan. Tetapi setelah mengalami proses penapaian, tuak itu akan bertukar menjadi cuka. Cuka itu boleh di gunakan. Bagi masalah di atas, sekiranya diyakini alkohol itu dari sumber bersih, maka ia boleh digunakan.
Ada kaedah fiqh yang menyatakan: \’sesuatu yang kita tidak tahu, tidak perlu untuk dipersoalkan.\’ Jadi, sekiranya anda ingin menggunakan alkohol itu, dan tidak tahu akan asal usul alkohol itu, maka ia dibolehkan. Tetapi sekiranya mengetahui ia dihasilkan dari unsure- unsur yang haram, maka tidak boleh digunakan. Pendapat ulama\’ tentang kandungan alkohol di dalam aiskrim dan adakah alkohol(jenis ethanol) yang dibuat bukan dengan cara pembikinan arak boleh diambil jika proportion alkohol itu sangat rendah serta bagaimana pula alkohol di dalam ubat batuk……
1. Beza antara arak/khamar dan alkohol:
Khamar ialah apa jua yg memabukkan dan alkohol adalah antara bahan yg menjadi komponen khamar.
Alkohol: dihasilkan melalui dua cara: Penapaian (fermentation) dan proses industri atau chemical industry.
Tanggapan masyarakat awam: alkohol itu khamar dan khamar itu alkohol. Sebenarnya : Khamar itu terdapat alkohol di dalamnya, manakala alkohol itu stand alone (alkohol tulin). Kedua-duanya Haram di minum. Khamar haram diminum kerana memabukkan. Alkohol tulin haram diminum kerana racunnya.
2. Status makanan dan minuman yg beralkohol. Semua makanan dan minuman yg sengaja di campur alkohol untuk menambah perisa atau sebagai additives adalah haram untuk umat Islam. Manakala makanan, minuman dan ubatan yg mengandungi alkohol pada kadar yg rendah dan alkohol itu terjadi sendiri kerana proses penyediaan makanan dan minuman itu, maka ia harus di makan, kecuali proses pembikinan arak seperti fermentasi bijirin (rye, barley, gandum, tamar) yang tujuan asalnya untuk dijadikan arak, walaupun alkohol itu ujud secara proses semulajadi. Contoh alkohol yg ujud secara semulajadi tapi masih boleh dimakan/minum:
1. Proses fermentasi tapai. Walaupun alkohol ada dalam tapai, tapi kadarnya dimaafkan syara\’ kerana ia ujud secara semulajadi dan belum sampai tahap yang memabukkan.
2. Proses membuat minuman kegemaran Nabi iaitu nabidz. Ada lebih dari 10 hadis riwayat Muslim mengenai bagaimana antara minuman kegemaran Nabi saw ialah nabidz, iaitu isteri-isteri Nabi merendam kismis atau kurma kering, selama 12-36 jam, dan Nabi membuangnya atau memberi kepada khadam selepas 3 hari jika masih ada baki. Itulah kaedah yg ditetapkan oleh fuqaha. (Dr Wahbah, Fiqh Islami, 3/537; Fatwa Mufti Brunei, 1999)
Hukum lozenge yg mengandungi DCBA (Dichloro benzyl alcohol) Umum manusia melihat alkohol itu khamar (arak) dan khamar itu alkohol.
Yang benar: alkohol ialah bahan2 yg terdapat dalam khamar dan dgn sebabnya ia memabukkan. Dalam khamar ada alkohol dan alkohol yg tulin adalah racun.
Alkohol dihasilkan melalui dua cara: fermentasi atau penapaian dan melalui proses industri.
Pertama: apakah alkohol (bukan dari proses pembuatan khamr/arak)  itu najis?
Ia adalah suci menurut Imam Ridha kerana ia adalah suatu yg tidak dikenali oleh orang sebelumnya.(Tafsir alManar: 7/58)
Ini juga pendapat Prof Dr alQaradawi dlm Fatawa Mua\’asirat.Perbahasan ulama\’ dalam bab najis sebenarnya tertumpu pada khamar bukan alkohol (anNawawi, alMajmoo\’: 2/516)
Kedua: Hukum Lozenge yg mengandungi DCBA kadar yg dibenarkan oleh piawaian antarabangsa ialah 1.2mg/2.6g lozenge. DCBA adalah ada unsur ubat bagi sakit kerongkong dan juga bertindak sebagai \’preservative\’ (ubat penahan kepada lozenge supaya tahan lama.
Hukum memakan lozenge yg mengandungi DCBA yg selamat pada kadar 1.2mg/2.6g adalah spt berikut: Fatwa2nya:
a. Imam Nawawi (alMajmoo\’: 9/30) harus hukumnya meminum ubat yg mengandungi sedikit racun jika ia dijamin selamat dan memang diperlukan.
b. Imam Haramain (ibid) jika seseorang merasa tiada sebarang risiko jika memakan racun yg suci, maka ia tidak diharamkan.
c. Imam alGhazali (alIhya\’: 2/94): Di Qiaskan jika lalat atau semut yg jatuh dalam periuk dan hancur bersama masakan, maka masakan itu halal. Dalam keadaan biasa, haram memakan lalat dan semut.
d. Imam alGhazali (alWajeez: 2/181) Harus hukum menggunakan ubat2an yg ada najis dan adunan yg mengandungi khamar.
e. Imam Ibn Hazm alAndalusi (Mu\’jam Fiqh Ibn Hazm adzZahiri: 2/1012): apabila sifat-sifat sesuatu barang yg najis atau haram sudah berubah sifatnya dan namanya sudah berganti dgn nama lain, maka hukumnya menjadi suci dan halal.
f. alQadhi abu Bakar alArabi alMaliki ( Ahkamul Qur:an: 1/59) sesuatu yg haram bia telah diolah atau dibakar hingga berubah bentuk dan sifatnya, maka hukumnya harus dan suci.
g. Muhammad alHasan alkasani (albada\’iy: 1.85)
h. Imam Ibn Abidin dalam Hasyiah Ibn Abidin ma\’a Durril Mukhta: 1/326)
i. Fatawa alHindiyah (Fiqh Hanafi):
1/45 Dan Fatawa dari Syaikhul Islam Ibn Taymiyah alHarani:
alFatawa: 21/501-502) juga membolehkan jika alkohol itu sudah menjadi sebati, hilang sifatnya dan telah menjadi suatu yg lain.
Kesimpulannya:
Hukum memakan lozenge yg mengandungi 1.2mg DCBA adalah harus. Namun dlm pasaran terdapat banyak lagi lozenge yg tidak mengandungi alkohol, maka disyorkan belilah lozenge yg tidak mengandungi alkohol. Bacalah label terlebih dahulu. Ini adalah langkah hadzar (berhati-hati).
Rujukan:
Fatwa-fatwa Kontemporari, Syeikh Yusuf al-Qardhowi.
Harian metro
Fatwa Majlis Fatwa Kebangsaan Taisir al-Allam Syarh U’mdatul al-ahkam, Syeikh Abdullah al-Bassam.

Sumber www.salafytobat.wordpress.com

SEJARAH HITAM WAHABY SALAFY


Sejarah HITAM Wahhabi Berdasarkan Fakta Sejarah Tulen(1)





MEMBONGKAR FAKTA SEJARAH HITAM WAHHABI BERTINDAK MEMBUNUH UMAT ISLAM
( Edisi Sejarah Hitam Wahhabi Di Kota Thoif )
1- WAHHABI MENYERANG KOTA THOIF SETELAH MENAWAN PEMERINTAHAN ASY-SYARIF GHOLIB HAKIM MEKAH PADA ZUL QAEDAH TAHUN 1217H BERSAMAAN 1802M KEMUDIAN WAHHABI MEMBUNUH PENDUDUK THOIF TERMASUK WANITA DAN KANAK-KANAK DAN WAHHABI TURUT MENYEMBELIH BAYI YANG MASIH DIPANGKUAN IBUNYA.
( Rujuk fakta sejarah tersebut dalam kitab berjudul Kasyfu Al-Irtiyab seperti yang telah discan di atas pada mukasurat 18 karangan Muhammad Muhsin Al-Amin dan beliau turut menukilkan kenyataan yang sama dari Mufti Mekah Ahmad Bin Zaini Dahlan )
2- WAHHABI MEMBUNUH UMAT ISLAM DI DALAM MASJID-MASJID & RUMAH-RUMAH DAN WAHHABI BERTINDAK MENGEJAR SESIAPA YANG LARI DARI SERANGAN MEREKA LALU MEMBUNUH KEBANYAKAN MEREKA YANG LARI ITU, WAHHABI JUGA MENGUMPUL SEBAHAGIAN MEREKA TADI DALAM SATU KAWASAN MALANGNYA KEMUDIAN DIPUKUL LEHER MEREKA (BUNUH) DAN SEBAHAGIAN MEREKA DIBAWA OLEH WAHHABI KE SATU LEMBAH BERNAMA WADI ALUJ LANTAS WAHHABI MENINGGALKAN MEREKA DI WADI YANG KOSONG ITU YANG JAUH DARI PERKAMPUNGAN DALAM KEADAAN MEREKA DIBOGELKAN TANPA PAKAIAN ANTARA LELAKI DAN PEREMPUAN.
( Rujuk fakta sejarah tersebut dalam kitab sejarah berjudul Sofahaat Min Tarikh Al-Jazirah Al-Arabiyah Al-Hadithah pada mukasurat 178 dikumpulkan oleh Dr. Muhammad ‘Audh Al-Khatib )
* bersambung… ada 7ribu lagi sejarah HITAM Wahhabi yang akan dibongkarkan dalam blog ini berdasarkan fakta sejarah yang tepat. Nantikan…
www.abu-syafiq.blogspot.com

Sejarah HITAM Wahhabi Berdasarkan Fakta Sejarah Tulen (2)


Lihat Video Pembunuhan Kejam Terhadap Umat Islam ( klik di atas )

WAHHABI MEMBUNUH ULAMA ISLAM, FAKTA SEJARAH YANG TIDAK AKAN DILUPAKAN

-SEMASA KEBANGKITAN WAHHABI DI KOTA THOIF MEREKA TURUT BERTINDAK GANAS TERHADAP ULAMA ISLAM DI KOTA THOIF DAN ULAMA ISLAM YANG BERADA BERHAMPIRAN DENGANNYA TERMASUK ULAMA ISLAM DI MEKAH DAN MADINAH MATI DIBUNUH OLEH WAHHABI BERDASARKAN FAKTA SEJARAH TEPAT.
PADA MASA ITU WAHHABI TELAH MEMBUNUH DAN MENYEMBELIH ULAMA ISLAM TERLALU RAMAI ANTARA ULAMA ISLAM YANG DIBUNUH OLEH WAHHABI ADALAH:
1- MUFTI MEKAH AL-MUKARRAMAH WAKTU YANG SAMA MERUPAKAN SEORANG MUFTI MEKAH DALAM MAZHAB ASY-SYAFI’IYYAH BERNAMA SYEIKH ABDULLAH AZ-ZAWAWI TELAH MATI DIBUNUH OLEH WAHHABI DENGAN KEJAM DIHADAPAN RUMAHNYA DENGAN CARA MENYEMBELIH MUFTI TERSEBUT.
2- SEORANG QODHI (TUAN KADI) BERNAMA ABDULLAH ABU AL-KHOIR JUGA MATI DIBUNUH OLEH WAHHABI KETIKA ITU.
3- SYEIKH JA’FAR ASY-SYAIBY DAN BEBERAPA ULAMA ISLAM BERSAMANYA DIBUNUH OLEH WAHHABI DENGAN CARA PENYEMBELIHAN KEJAM OLEH KETUA DAN BALA TENTERA WAHHABI KETIKA ITU.
KESEMUA PERISTIWA KEJAM TADI BERLAKU PADA TAHUN 1217H BERSAMAAN 1802M.
( Sila rujuk fakta sejarah kekejaman Wahhabi tersebut dalam kitab sejarah yang mu’tadil berjudul Al-Awroq Al-Baghdadiyyah Fi Al-Hawadith An-Najdiyyah karangan ulama sejarah bernama As-Said Ibrahim Ar-Rawi Ar-Rifa’iy pada mukasurat 2-4 percetakan An-Najah di Baghdad Iraq Tahun cetakan 1345Hijriyyah ).
bersambung…
http://abu-syafiq.blogspot.com

Sejarah HITAM Wahhabi Berdasarkan Fakta Sejarah Tulen (3)


FAKTA SEJARAH MEMBUKTIKAN KEZALIMAN WAHHABI DI MEKAH AL-MUKARRAMAH MEMBUNUH UMAT ISLAM BERDASARKAN BUKU SEJARAH WAHHABI SENDIRI
(Edisi Sejarah HITAM Wahhabi Di Mekah Al-Mukarramah)
Setelah Wahhabi menyerang kota Thoif dan membunuh umat Islam dan ulamanya disana. Wahhabi menyerang tanah yang mulia Mekah Al-Mukarramah pula tahun 1803M : 1218H seperti yang dinyatakan oleh pengkaji sejarah Abdullah bin Asy-Syarif Husain dalam kitabnya berjudul Sidqul Akhbar Fi Khawarij Al-Qorni Thaniy ‘Asyar. Manakala pengkaji sejarah Wahhabi bernama Uthman Ibnu Basyir Al-Hambaly An-Najdy menyatakan kejadian tersebut berlaku pada tahun 1220H dalam kitabnya Tarikh Najad. Dalam kedua-dua kita sejarah tadi menceritakan kezaliman Wahhabi di tanah suci Mekah antaranya:
KEZALIMAN DILAKUKAN OLEH WAHHABI DI KOTA MEKAH:-
- Pada bulan Muharram 1220H bersamaan 1805M Wahhabi di Mekah membunuh umat Islam yang menunaikan ibadah haji.
- Ibu-ibu penduduk kota Mekah dipaksa menjual harta hak milik masing-masing untuk menebus kembali anak-anak mereka yang masih kecil ditangkap oleh Wahhabi.
- Penduduk Mekah kelaparan kerana keadaan begitu zalim dilakukan oleh Wahhabi sehingga kanak-kanak mati kelaparan berkelimpangan mayat-mayat mereka.
- Pengkaji sejarah & merupakan golongan Wahhabi juga (Uthman An-Najdy) menyatakan bahawa Wahhabi menjual daging-daging keldai dan bangkai kepada penduduk Islam Mekah dengan harga yang tinggi dalam keadaan mereka kelaparan. Sungguh dihina umat Islam Mekah ketika itu.
( RUJUK FAKTA SEJARAH DI ATAS YANG DINYATAKAN TADI DALAM KITAB PENGKAJI WAHHABI SENDIRI BERNAMA UTHMAN IBNU BASYIR AL-HAMBALY AN-NAJDY DALAM KITABNYA BERJUDUL ‘INWAN AL-MAJDY FI TARIKH NAJAD JUZUK 1 MUKASURAT 135, RUJUK JUGA KITAB YANG TELAH DISCAN DI ATAS ).
from : http://abu-syafiq.blogspot.com/
Wahhaby adalah buatan British, yang membantai muslimin di hijaz dan memberontak kepada kekhalifan islam (sunni) utsmaniyah!!

Lihatlah bagaimana wahhaby didanai oleh british dan dibawah komando british yang bernama Lawrence!!
Film documenter : Arab Badwi Bahlul (wahhaby) memberontak pada khaliafh islam (sunni) otsmaniyah


This video highlights some of the accomplishments of the stoopid Arabs who betrayed Islam by turning against the Ottoman Caliphate on behalf of the British, and the consequences they have suffered as a result of their stupidity (ini adalah film layar lebar yang mengngkat fakta-fakta  sejarah kekejaman wahhaby dan Lawrence membunuh jamaah haji, ulama sunni dan muslimin).
Video klip asli dimana Lawrence  dan wahhaby dianggap pahlawan oleh kafir yahudi dan nasrani :

Lihatdi video  pimpinan wahhaby (King Faisal Laknatullah)  bersama Lawrence laknatullah:


——————————————————————————————-
Kemudian anak dari King Faisal atau raja Fahd berkalung salib bersama Pimpinan Zionist didunia ini Ratu elisabeth:
Rezim Wahhaby Saudi arabia  adalah madzab sesat buatan yahudi british untuk menghancurkan islam dari dalam serta mengadu domba islam dnegan kristen. Ini bertujuan agar zionis yahudi laknatullah lebih mudah mengusai palestine dan dunia. Inilah pemimpin rezim suadi arabia (Raja fahd) yang dengan bangga berkawan dengan zionis britis dan berkalung salib:


Bush Su\
Logo Resmi Kerajaan British (Inggris) ternyata adalah Logo Freemason Zionist
antichrist prince william
Wahhaby symbol (Saudi arabia kingdom or wahhaby kingdom  symbol)


from : http://www.alriyadh.gov.sa/election/en-sh.asp
An emblem was designed for the elections campaign. It evokes the national symbol of Saudi Arabia and highlights the electoral process as a continuous build up and preservation of the country’s achievements in the field of development.
The campaign also selected a quotation from the address of the Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz (Chief of wahhaby) in which he called on the citizens to practice the election process as it is a participation in the decision making.

——————————————————————————————-
Bagi pengikut wahhaby badwi najd bahlul yang tak tau sejarah boleh tengok video ini, tentang sejarah berdirinya negeri2 najis (wahaby) saudi arabia.

History of The Muslim Ummah (Part 1)…VERY EMOTIONAL!!!!!!!!

sumber:http://www.salafytobat.wordpress.com

IBU BAPA RASULLULLAH MASUK SYORGA

Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم – Bahagian 1.

Al-Faqir telah diminta oleh beberapa orang kawan untuk menulis satu artikel yang sangat berat bagi al-Faqir. Sehari dua lepas, seorang kenalan semasa daurah tahun lepas menalipon al-Faqir lagi dan minta supaya dituliskan juga, dan “paparkan di al-Fanshuri” katanya. al-Faqir sekadar menjawab insyaAllah. Sebelum ini juga ada pengunjung menyuarakan permintaan dishoutbox untuk menulis tajuk yang sama. Artikel yang diminta al-Faqir tulis adalah mengenai kedudukan ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Menurut mereka, ada segolongan yang bermazhab ‘tiada bermazhab’ …. (faham-faham je lah …) telah melemparkan isu yang sensitif [dan biadab] di khalayak awam iaitu … ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di neraka, ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mati dalam keadaan musyrik dan sebagainya. Bahkan salah seorang dari mufti dikalangan mereka disebuah tanah ‘arab juga berfatwa sedemikian … Ya Allah, aku berlindung denganMu dari beraqidah yang sedemikian rupa.
Memandangkan isu sensitif ini yang dilontarkan kepada masyarakat awam yang rata-rata tidak mengetahui dalil bagi pendapat yang mengatakan bahwa ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم , selamat dari azab nereka, maka al-Faqir mengambil keputusan untuk menulis sekadar pengetahuan yang ada. Maka terlebih dahulu al-Faqir memohon ampun dan maaf andaikata terdapat kesalahan dan kesilapan dalam menukilkan pendapat para ulama. Teguran dan tunjuk ajar daripada para asatizah, terlebih dahulu ucapkan terimakasih. Pada mulanya al-Faqir bercadang untuk meminta Ustaz Khuwaidim menyemaknya dahulu, tetapi memandangkan beliau sibuk dengan pengajian kilat bersama pelajar beliau, maka al-Faqir papar sekadar apa adanya sajalah.
Sebenarnya persoalan ini telah pun dijawab oleh para ulama besar ahl al-Sunnah wa al-Jamaah seperti Imam as-Sayuthi didalam kitabnya al-Ta’zim wa al-Minnah fi Anna Abawayy al-Rasul fi al-Jannah dan Masalik al-Hunafa’ fi Walidayy al-Mustafa, Abu Hafs Umar Ibn Syahin, Imam al-Qurtubi di dalam al-Tazkirah, Syaikh Ibrahim al-Baijuri didalam Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatit Tauhid, Mufti Mesir Dr. Ali Jum’ah di dalam al-Bayan Lima Yusygilu al-Adzhan, Dr Abdul Malik bin Abdurrahman al-Sa’adi didalam al-Bid’ah al-Mafhum al-Islamiy al-Daqiiq dan lain-lain.
Selain itu, ulama kita juga telah menjawab persoalan ini seperti Syaikh Nawawi al-Banteni didalam Nuruz Zholam Syarah Mandzumah ‘Aqidah al-‘Awaam, Sayyid Yusuf bin ‘Ali aL-Zawawi, Mufti Terengganu didalam fatwanya yang dikeluarkan pada tahun 1971, Syaikh Muhammad Fuad Kamaluddin al-Maliki al-Rembawi didalam bukunya Wahabisma dari Neraca Syara’, Ustaz Mujahid bin Abdul Wahab didalam bukunya Keislaman Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Dan bebaru ini di ruangan bicara agama di akhbar Utusan Malaysia bertarik 9 November 2008, soalan yang sama dikemukan, dan ianya dijawab oleh Ustaz Muhammad Yusof Abas dengan baik. Al-Faqir paparkan disini untuk dikongsi bersama.
SOALAN: Adakah ibu bapa Nabi [صلى الله عليه وآله وسلم] termasuk dalam mereka yang terselamat di akhirat nanti sedangkan ada hadis yang mengatakan bahawa Baginda pernah bersabda: “Bapa kamu dan bapaku dalam neraka” – Sanusi Samsul, Taiping, Perak.
JAWAPAN: Menurut pendapat ahlul haq, mereka yang berada di antara dua masa para rasul itu (mereka yang dikenali sebagai ahlul fatrah) atau mereka yang tidak diutuskan rasul kepada mereka itu, mereka dikira terselamat dan tidak diazabkan di akhirat nanti. Ini termasuklah ibu bapa Nabi kita. Ia berdasarkan firman-Nya yang bermaksud “Kami tidak menyeksa (sesiapa) sehingga Kami utuskan Rasul dan utusan (untuk menerangkan yang benar dan salah)” (Maksud Surah al Israa’ ayat 15).
Adapun sabda Nabi [صلى الله عليه وآله وسلم] tadi yang mengatakan “Bapamu dan bapaku dalam neraka” itu dikatakan hadis ahad yang tidak dapat menolak dalil qat’ai dari al-Quran. Justeru itu para ulama kita mengatakan maksud dengan perkataan bapaku dalam hadisnya tadi boleh difahami sebagai bapa keturunan (seperti datuk neneknya, bapa saudara seperti Abu Talib dan Abu Lahab dan lainnya. Ini kerana Abu Talib adalah bapa angkat yang memelihara dan menjaganya sejak kecil lagi dan bagaimana hubungan kasih sayang yang terjalin antara anak saudara dengan bapa saudaranya itu. Menurut pendapat yang terkuat, ibu bapanya (ibu bapa nabi) adalah terselamat, malah kata para ulama lagi, seluruh datuk nenek dari keturunannya dikira dari ahlul fatrah lagi bersih dari sebarang keaiban. Ini berdasarkan sabdanya yang bermaksud: “Aku sentiasa berpindah-pindah dari benih yang suci dari satu generasi ke satu generasi yang baik-baik (tidak bercampur) bukan dari benih yang kotor dan jahat” (Riwayat Abu Nu’aim)
Malahan dikatakan ada hadis riwayat dari Urwah dari Aisyah: “Bahawa kedua ibu bapa Nabi pernah dihidupkan kerana permohonannya lalu hiduplah keduanya dan beriman dengannya lalu terus meninggal” (Riwayat Ibnu Syahin).
Kesimpulannya, akidah yang perlu dipegang ialah kedua ibu bapa Baginda adalah selamat sejahtera. Wallahualam.
Bagi al-Faqir, secara peribadinya, pertanyaan atau membangkitkan persoalan sebegini adalah merupakan satu perbuatan yang jahat adab kepada baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم, yang lahir dari seseorang yang kering hatinya daripada rasa kecintaan kepada baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Sedangkan kecintaan kepada Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم adalah merupakan qurb yang paling utama disisi Allah. Baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah bersabda:
والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

Artinya: Demi dzat yang diriku berada didalam genggamanNya, tidak beriman seseorang dari kalian, sehingga aku lebih dia cintai daripada ibubapanya, anaknya dan manusia sekeliannya. [Hadits riwayat al-Bukhari dan Ahmad]

Salah satu tanda cinta kita kepada Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم ialah dengan tidak membuat atau membangkitkan sesuatu yang menyakiti baginda صلى الله عليه وآله وسلم. Maka tidak diragukan bahawa membicarakan yang tidak baik tentang kedua ibubapa baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم, menyakiti baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Allah Ta’ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya. (Surah at-Taubah: 61)

Didalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِي ٱلدُّنْيَا وَٱلآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُّهِيناً

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan untuk mereka azab seksa yang menghina. (Surah al-Ahzab: 57)

Janganlah kita menjadi seumpama kaum Yahudi yang menyakiti Nabi Musa عليه السلام , sebagaimana firman Allah:
يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ آذَوْاْ مُوسَىٰ فَبرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُواْ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهاً

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (Yahudi) yang telah menyakiti Nabi Musa, lalu Allah membersihkannya dari segala tuduhan yang mereka katakan; dan adalah dia seorang yang mulia di sisi Allah. (Surah al-Ahzab: 69)

Qadhi Hussin berkata: Maka, kami tidak mengatakan sesutu kecuali apa yang diredha oleh Tuhan kami dan diredhai oleh Rasul kami. Dan kami tidak berani memberanikan diri terhadap kedudukan baginda yang mulia dan menyakiti baginda صلى الله عليه وآله وسلم dengan perkataan yang membuatkan baginda صلى الله عليه وآله وسلم tidak redha.
Qadhi Abu Bakar Ibn al-’Arabi, salah seorang imam didalam mazhab Maliki pernah ditanya perihal seorang lelaki yang mengatakan bahwa bapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم berada di dalam neraka. Maka beliau (Qadhi Abu Bakar) menjawab: Sesungguhnya lelaki tersebut dilaknat Allah Ta’ala, kerana Allah Ta’ala telah berfirman maksudnya: Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan untuk mereka azab seksa yang menghina. (Surah al-Ahzab: 57). Dan tiada perkara yang menyakiti Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم yang terlebih besar daripada seseorang itu mengatakan bahwa bapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم berada di dalam neraka.
Apa untungnya mereka melemparkan isu ini ketengah masyarakat awam? Mengapa mereka mengajar masyarakat untuk tidak beradab dengan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم? Apa manfaatnya? Entahlah … akhir-akhir ini, ramai yang mencari ke‘glamour’an dengan melontarkan isu-isu yang sensitif, membesar-besarkan persoalan-persoalan khilafiah yang sepatutnya dihadapi dengan berlapang dada … porak-peranda kesatuan umat bila hal sebegini dilontarkan kepada masyarakat awam. Dan terdapat juga trend kini yang mengambil ilmu agama dengan hanya sekadar membaca dari buku-buku tanpa belajar dari mereka yang berkeahlian dan yang benar pegangan aqidahnya.
Adapun mengenai kedudukan ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم, sebagaimana yang tersebut didalam kitab-kitab yang al-Faqir nyatakan diatas, secara mudahnya dijawab berdasarkan firman Allah iaitu:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولاً

Artinya: Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah).

Dan firman Allah:
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

Artinya: Rasul-rasul (yang Kami telah utuskan itu semuanya) pembawa khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pembawa amaran (kepada orang-orang yang kafir dan yang berbuat maksiat), supaya tidak ada bagi manusia sesuatu hujah (atau sebarang alasan untuk berdalih pada hari kiamat kelak) terhadap Allah sesudah mengutuskan Rasul-rasul itu. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (surah an-Nisa: 165)


Imam al-Baijuri menyebut didalam kitab Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatut Tauhid:

Tanbih: Apabila engkau telah mengetahui bahwa ahli fatrah adalah golongan yang terselamat di akhirat menurut qaul yang raajih, maka mengetahuilah engkau bahwa kedua ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم juga terselamat, disebabkan keduanya tergolong daripada ahlul fatrah. Bahkan semua nenek moyang Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم terselamat dan dihukumkan sebagai generasi yang beriman dan tiada seorang pun di antara mereka yang (terjatuh) didalam kekufuran, kekotoran, keaiban (yang menjatuhkan maruah) dan tidak pula oleh sesuatu diantara apa-apa yang pernah dilakukan oleh kaum arab jahiliah, berdasarkan dalil naqliah, seperti firman Allah Ta’ala:
وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّاجِدِينَ
Artinya: Dan (melihat) gerak-gerimu di antara orang-orang yang sujud (asy-Syu’ara: 219)
Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
لم أزل انتقل من الاصلاب الصاهرات إلى الأرحام الزكيات

Artinya: Sentiasa aku berpindah dari sulbi generasi-generasi yang suci kepada rahim-rahim yang bersih.


Dan selain yang demikian itu daripada hadits-hadits yang telah mencapai darjat mutawatir. – sekian petikan dari Tuhfatul Murid, halaman 68 –


Mengenai firman Allah Ta’ala dalam ayat 219 surah asy-Syu’ara diatas – وتقلبك في الساجدين Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwa dia berkata: “Yakni diantara tulang-tulang sulbi nenek moyang Nabi Adam عليه السلام, Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrahim عليه السلام, sampai Allah Ta’ala mengeluarkan baginda صلى الله عليه وآله وسلم sebagai seorang Nabi.” [lihat tafsir Qurthubi dan Thabari]

Diriwayatkan dari Watsilah bin Asqa’ bahawa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersabda (maksudnya):
“Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih Nabi Ismail عليه السلام dari anak-anak Nabi Ibrahim عليه السلام, memilih Bani Kinanah dan anak cucu Nabi Ismail عليه السلام, memilih Quraisy dari Bani Kinanah; memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilih diriku dari Bani Hasyim.” [hadits riwayat Ahmad dan Muslim. Hadits ini adalah riwayat Ahmad]

Dari Sayyidina Abbas رضي الله عنه diriwayatkan bahawa Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم bersabda (maksudnya): “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikan aku yang terbaik di antara mereka dan dari generasi terbaik mereka. Kemudian Allah Ta’ala memilih kabilah-kabilah, lalu menjadikan aku dari kabilah terbaik. Kemudian Dia memilih keluarga-keluarga, lalu menjadikan aku dari keluarga terbaik. Maka, aku adalah (makhluk) terbaik peribadinya dan terbaik keluarganya.” [hadits riwayat Ahmad dan at-Turmidhi]

Maka, jelas bahawa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم menyebut, asal-usul keturunannya dengan sifat baik dan suci. Itu adalah dua sifat yang berlawanan dengan sifat kekafiran dan kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman dengan menyebutkan sifat kaum musyirikin (maksudnya): “Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis (jiwa musyirikin itu dianggap kotor, kerana menyekutukan Alllah – surah at-Taubah: 28
Mufti Terengganu, Sayyid Yusuf bin ‘Ali az-Zawawi, ketika ditanyakan soalan siapakah ahlul fatrah dan kesudahan mereka, maka beliau menjawab:
Ulama-ulama Islam maksudkan dengan “ahli fatrah” itu ialah mereka yang tidak sampai seruan Nabi dan tidak dibangkitkan kepada mereka utusan [Rasul] daripada Allah Ta’ala. Ulama` ini berkata bahwa mereka ini terlepas dari azab siksa hari akhirat. Sebagaimana firman Allah “وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا” Artinya: “Kami tidak akan menyiksa sehingga telah kami mengutus rasul”. Ayat 15 surah al-Isra’. Ulama juga meletakkan istilah ahli fatrah itu kepada kaum Quraisy dan lainnya yang telah mati sebelum diutus junjungan kita Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم menjadi Rasul dan mereka itu mengatakan bahwa mereka ini terlepas daripada azab siksa dengan sebab tidak sampai seruan Islam kepada mereka termasuklah kedua ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sendiri.
Mengenai pembahagian ahlul fatrah, al-Faqir mengutip daripada tulisan Ustaz Mujahid bin Abdul Wahab bertajuk Keislaman Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم , yang mana buku tersebut disemak oleh al-Fadhil Syaikh Muhamad Fuad Kamaluddin al-Maliki al-Rembawi:
Menurut Professor Dr Judah al-Mahdi, Dekan Fakulti al-Quran di Universiti al-Azhar di dalam kitabnya Hady al-Nairain, secara umumnya ahli fatrah dibahagikan kepada 4 kategori:
Golongan pertama: Mereka dikurniai hidayah oleh Allah a’al untuk mentauhidkanNya dari cahaya hati mereka tanpa menganut mana-mana ajaran Nabi sebelumnya. Diantara mereka ialah Qus ibn Sa’adah, Zaid bin Amru, Zuhair dan ‘Amir ibn al-Zorb
Golongan kedua: Mereka yang menganut agama yang dibawa Nabi-nabi terdahulu, patuh serta iltizam dengannya dan perkara yang berkaitan dengan kerasulan Rasul terakhir صلى الله عليه وآله وسلم bagi sesiapa yang mengenali Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم atau yang mengikuti jalan-jalan mereka yang mengetahui perutusan baginda صلى الله عليه وآله وسلم. Diantara mereka iaialh Tubba al-Himyari yang memeluk Islam dan beriman 900 tahun sebelum kelahiran baginda صلى الله عليه وآله وسلم tatkala kaum Yahudi menceritakan kepadanya ( perihal Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) dari kitab-kitab agama mereka. Beliau pada asalnya merupakan penganut agama Nabi Ibrahim عليه السلام. Begitu juga Waraqah ibn Naufal dan Utsman ibn al-Huwairith dan segelintir penduduk Najran yang tergolong dari kalangan pembahagian ini yang taat dan menganut agama tersebut.
Golongan ketiga: Mereka yang tidak mensyirikkan Allah Ta’ala dan tidak pula mentauhidkanNya serta tidak menganut sebarang agama Nabi sebelumnya. Mereka juga tidak mengasaskan agama sendiri dan tidak pula sampai kepada mereka ajaran Nabi sebelumnya. Bahkan, kekallah mereka dengan arus kehidupan secara semulajadi. Kategori ini merupakan golongan yang menepati istilah Ahli Fatrah yang sebenar dan ketetapan bagi mereka ialah terselamat dari sebarang azab berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولاً

Artinya: Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul.

Golongan keempat: Mereka yang menukar dan menokok tambah ajaran Nabi sebelumnya serta mensyirikkan Allah Ta’ala. Mereka mensyariatkan agama mereka sendiri dan menentukan hukum-hakam menurut kehendak hawanafsu. Kebanyakkan mereka adalah dari golongan arab jahiliyyah. Diantara mereka ‘Amru ibn Luhai yang pertama sekali mengasaskan penyembahan berhala dan amalan-amalan kaum jahiliyyah.
Menurut Imam Zurqani didalam Syarah al-Mawahib al-Laduniyyah [pendapat beliau adalah bertepatan dengan pembahagian ketiga - abuzahrah], kedua ayahanda dan bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم tergolong didalam kategori yang ketiga kerana tidak mendapat sebarang seruan dakwah Nabi-nabi yang terdahulu disebabkan zaman mereka yang terkemudian. – Tamat petikan dari buku keislaman ayahanda dan bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Halaman 20 – 23 –
Mufti Mesir, Dr ‘Ali Jum’ah juga menjawab persoalan seumpama ini didalam kitabnya al-Bayan Lima Yasyghul al-Adzhan dan juga al-Bayan al-Qawim li Tashhih Ba’dhi al-Mafahim:

Ketahuilah bahawa ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dan nenek-moyang baginda, jika tsabit bahawa sebahagian mereka jatuh dalam sesuatu yang secara zahir merupakan kesyirikan, maka mereka bukanlah orang-orang yang musyrik. Mereka bersikap demikian kerana mereka tiada diutuskan keatas mereka Rasul. Maka golongan ahlussunnah waljamaah seluruhnya meyakini bahawa siapa yang terjatuh kedalam kemusyrikan, sedangkan dia berada di dalam masa penggantian syariat-syariat tauhid dalam rentang masa kosong (fatrah) antara satu Nabi dengan Nabi selanjutnya, maka ia tidak disiksa.
Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu cukup banyak, antara lain berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولاً

Artinya: Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah). (Surah al-Isra’: 15)

ذٰلِكَ أَن لَّمْ يَكُنْ رَّبُّكَ مُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَٰفِلُونَ
Artinya: Yang demikian itu adalah kerana Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan yang lengah (maksudnya: penduduk suatu kota tidak akan diazab, sebelum diutuskan seorang Rasul yang akan memberikan peringatan kepada mereka.)” (Surah al-An’am: 131)
وَمَآ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلاَّ لَهَا مُنذِرُونَ
Artinya: Dan, kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberikan peringatan. (surah asy-Syu ‘ara: 208).
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

Artinya: Rasul-rasul (yang Kami telah utuskan itu semuanya) pembawa khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pembawa amaran (kepada orang-orang yang kafir dan yang berbuat maksiat), supaya tidak ada bagi manusia sesuatu hujah (atau sebarang alasan untuk berdalih pada hari kiamat kelak) terhadap Allah sesudah mengutuskan Rasul-rasul itu. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (surah an-Nisa: 165)

Maka, tidak berdiri tegak hujjah (bagi Allah Ta’ala) terhadap makhluk kecuali dengan mengutus Rasul-rasul. Dan tanpa mengutus Rasul-rasul, maka manusia tidak berada dalam hujjah, dengan rahmat Allah Ta’ala dan kurniaNya. Ayat-ayat ini menunjukkan apa yang diyakini oleh ahlul haq, golongan ahlussunnah waljamaah, bahawa Allah Ta’ala dengan rahmat dan kurniaNya tidak menyiksa seorang pun sehingga diutuskan kepadanya Rasul yang memberi peringatan.
Mungkin sahaja ada orang yang mengatakan: “Barangkali kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم telah diutus Rasul pemberi peringatan kepada mereka dan mereka berdua syirik setelah sampainya hujjah.” Maka ini merupakan sesuatu yang tidak dikemukakan oleh teks ajaran, bahkan nash-nash yang menafikannya dan menegaskan sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَآ آتَيْنَاهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا وَمَآ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِّن نَّذِيرٍ
Artinya: Dan (tidak ada sebarang alasan bagi dakwaan mereka, kerana) Kami tidak pernah memberi kepada mereka Kitab-kitab untuk mereka membaca dan mengkajinya, dan Kami juga tidak pernah mengutus kepada mereka sebelummu (wahai Muhammad) seseorang Rasul pemberi amaran (melarang mereka menerima ajaranmu). (surah Saba: 44)
Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman :
لِتُنذِرَ قَوْماً مَّآ أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Artinya: … supaya engkau memberi amaran kepada kaum (mu) yang telah lama tidak didatangi sebarang Rasul pemberi amaran sebelummu, semoga mereka beroleh pengajaran (serta insaf mematuhinya).
Dan pada ayat lain lagi, Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِيۤ أُمِّهَا رَسُولاً يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي ٱلْقُرَىٰ إِلاَّ وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ
Artinya: Dan tidaklah menjadi kebiasaan Tuhanmu membinasakan mana-mana negeri sebelum Ia mengutus ke ibu negeri itu seorang Rasul yang akan membacakan kepada penduduknya ayat-ayat keterangan Kami; dan tidaklah menjadi kebiasaan Kami membinasakan mana-mana negeri melainkan setelah penduduknya berlaku zalim.
Nash-nash yang telah dikemukakan itu menunjukkan bahawa kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tidak diseksa bukan kerana mereka berdua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tetapi kerana termasuk dalam orang-orang yang hidup pada masa fatrah (ruang waktu kosong antara para Rasul). Dan hukum mereka sudah jelas di kalangan kaum muslimin.
Imam Syathibi berkata [didalam al-Muwafaqat, juz 3]: “Telah berlaku ketetapan Allah Ta’ala (sunnatuLlah) pada makhlukNya bahawa Dia tidak menyiksa kerana pelanggaran kecuali setelah mengutus rasul. Lalu apabila hujjah sudah berdiri tegak atas mereka: siapa yang memilih beriman, maka ia beriman; dan siapa yang memilih kafir, maka ia kafir. Bagi setiap pilihan ada balasan setimpal.” – petikan dari al-Bayan Lima Yasyghul al-Adzhan, halaman 171 – 172 –
Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih terperinci, silalah rujuk kitab-kitab yang telah al-Faqir sebutkan diatas tadi. InsyaAllah al-Faqir akan menyambung lagi tulisan ini didalam bahagian 2 dan 3 …….
اَلَّلهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا وَالحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مَنْ أَحْوَالِ أَهْلِ النَّارِ

Sekian.
وماتوفيقي إلابالله عليه توكلت وإليه انيب
~ al-haqir al-faqir abu zahrah -

Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم – Bahagian 2


Sambungan daripada entri sebelumnya. Pada bahagian kedua ini al-Faqir ingin membawakan beberapa dalil yang dibawa oleh ulama tentang keimanan ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.
Al-Faqir mulai dengan memetik apa yang tersebut didalam kitab Nur al-Dzolam karangan asy-Syaikh al-‘Alim al-‘Allamah Abi ‘Abd al-Mu’thi Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali Nawawi al-Banten (Syaikh Nawawi Banten) رحمه الله تعالى (maksudnya):
Far’un (cabang): Telah berkata Syaikh al-Baajuriy: Adapun yang benar, semoga Allah memperkenankan kami atasnya, sesungguhnya kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم adalah orang selamat menurut pendapat yang mengatakan [qil]: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menghidupkan kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم hingga keduanya beriman kepada baginda, kemudian Allah mewafatkan keduannya kembali – berdasarkan hadits yang telah datang mengenai hal itu, iaitu hadits yang diriwayatkan oleh Urwah daripada ‘Aisyah bahwa sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم memohon kepada Tuhannya untuk menghidupkan [kembali] kedua ibubapa baginda, lalu Allah menghidupkan keduanya lalu mereka berdua beriman kepada baginda, kemudian Allah mewafatkan keduanya.
Syaikh as-Suhailiy berkata: Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu untuk mengkhususkan NabiNya dengan apa yang Dia kehendaki dari anugerahnya dan memberikan nikmat padanya dengan apa yang Dia kehendaki dari kemuliaanNya – [Nur adz-Dzolam Syarh Mandzumah ‘Aqidah al-Awwam; cetakan Dar al-Hawi; halaman 114 – 115]
Bagi sapa-sapa yang pernah mempelajari kitab Nur adz-Dholam ka ataupun Tuhfatul Murid syarah bagi Matan Jauharah, maka, insyaAllah dia akan bertemulah dengan perbahasan tersebut. Oh ya … sapa-sapa yang berminat nak cd mp3 pengajian Tuhfatul Murid oleh Baba Ismail Sepanjang bolehlah hubungi al-Faqir …. habih sebuah kitab. 60 keping cd. Maaf ya, promosi sikit ……. bisnis kampungan … :) )
Kembali kepada tajuk ……. Tersebut didalam kitab al-Nasikh wa al-Mansukh oleh Ibn Syahin, sepotong hadits, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم (maksudnya):
Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn al-Hassan ibn Ziyad, hamba kaum Anshor, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Yahya al-Hadhrami ketika di Mekah, telah menceritakan kepada kami Abu Ghuzayyah Muhammad ibn Yahya al-Zuhri, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab ibn Musa daripada ‘Abdurrahman ibn Abi al-Zannad daripada Hisyam ibn Urwah daripada bapanya [iaitu Urwah ibn al-Zubair ibn al-Awwam ibn Khuwailid ibn Asad bin ‘Abdul Uzza ibn Qushai. Urwah adalah anak saudara kepada Sayyidatina ‘Aisyah رضي الله عنها] daripada Sayyidatina ‘Aisyah رضي الله عنها : Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم pergi ke Hujuun [Mu’alla atau Ma’ala iaitu kawasan perkuburan di Mekah. Dinamakan al-Hujuun kerana dinisbahkan kepada bukit al-Hujuun – abuzahrah] dalam keadaan dukacita dan bersedih, lalu duduk disana selama masa yang dkehendaki oleh Tuhannya Azza wa Jalla. Kemudian baginda kembali dalam keadaan gembira, maka aku bertanya: Wahai. Rasulullah! Engkau pergi ke Hujuun dalam keadaan dukacita dan bersedih lalu engkau duduk disana selama masa yang dikehendaki oleh Allah, kemudian engkau kembali dalam keadaan gembira. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda: Aku meminta kepada Allah lalu Allah menghidupkan kembali ibuku, maka dia beriman denganku, kemudian Allah mematikannya semula.
Az-Zahabi dan segolongan ahli hadits mengatakan hadits ini sebagai maudhu kerana didalamnya kerana
  • Terdapat seorang 2 perawi hadits yang majhul iaitu Abdul Wahhab ibn Musa dan Muhammad ibn Yahya.
  • Bertentangan dengan hadits shohih iaitu hadits Rasullulah صلى الله عليه وآله وسلم meminta keampunan untuk ibu baginda.
Maka untuk menolak pendapat tersebut:

(1) Perawi yang majhul: Al-Hafidz Jalaluddin al-Sayuthi mengatakan bahwa pendapat az-Zahabi ditolak kerana Abdul Wahhab ibn Musa, perawi yang dikatakan majhul itu tergolong didalam perawi yang meriwayatkan hadits daripada Anas bin Malik dan beliau dikenali sebagai Abu al-Abbas al-Zuhri. Begitu juga Muhammad ibn Yahya juga dikenali, dimana peribadi beliau yang baik diceritakan oleh Abu Sa’id ibn Yunus di dalam Tarikh Misr. Maka sebahagian ahli hadits telah bersepakat mengatakan hadits ini bukanlah maudhu’ tetapi hanya mencapai tahap hadits dhoif yang mana ianya boleh dijadikan sandaran untuk beramal dalam perkara-perkara khosois, manaqib dan fadhoil. Pendapat Imam Sayuthi ini sejajar dengan pendapat sesetengah ahli hadits seperti Ibn Syahin, al-Khatib al-Baghdadi, Ibn ‘Asakir dan al-Suhaili. Begitu juga al-Qurthubi dan Ibn Jarir ath-Thabari.

(2) Bertentangan dengan hadits shohih: Sebahagian ahli hadits dan ulama yang mengatakan hadits ihya diatas maudhu’ kerana bertentangan maksud dengan hadits yang shohih iaitu (maksudnya):
(a) Sesungguhnya kubur yang kamu semua lihat aku berdoa disisinya tadi adalah kubur Aminah binti Wahhab. Sesungguhnya aku meminta izin daripada Allah untuk menziarahinya, maka Allah mengizinkannya. Kemudian aku meminta izin untuk beristighfar baginya dan Allah tidak mengizinkan bagiku dan turunlah keatasku ayat (maksudnya): “Dan tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohon ampun bagi kaum musyrikin. (hadits riwayat al-Hakim didalam al-Mustadrak dan az-Zahabi menshahihkannya)
(b) Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memohonkan ampun bagi ibuku, maka Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.” (hadits riwayat Imam Muslim)
Menurut al-Hafidz Jalaluddin as-Sayuthi didalam at-Ta’zim wa al-Minnah fi Anna Abaway Rasulillah fi al-Jannah, hadits pertama (a) yang diriwayatkan oleh al-Hakim didalam al-Mustadrak dan dishohihkan oleh az-Zahabi dan kemudian az-Zahabi mendhoifkannya pula didalam Mukhtasar al-Mustadrak. Maka telah wujud pertentangan pendapat az-Zahabi pada hadits yang sama. Seterusnya as-Sayuthi mengatakan bahwa riwayat al-Hakim ini bersalahan dengan apa yang dinyatakan oleh di dalam shohih al-Bukhari mengenai sebab turunnya ayat:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَٱلَّذِينَ آمَنُوۤاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ

Ayat 113 dari surah at-Taubah ini turun di Mekah pada ketika kewafatan Abu Tholib.


Manakala, menurut Ibn Syahin (w385H) didalam kitabnya an-Nasikh wal Mansukh bahwa hadits istighfar iaitu hadits larangan Allah ke atas Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم daripada memohon ampun buat ibu baginda telah dimansukhkan oleh hadits yang datang kemudian iaitu hadits ihya’, hadits ibu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dihidupkan semula. Pendapat ini juga didokong oleh Imam al-Qurthubi sebagaimana kata beliau didalam kitab at-Tazkirah fi ahwal al-Mauta wal akhirah [maksudnya kurang-lebih]:

Fasal: Telah datang pada bab ini: Hadits yang bertentangan dengan hadits dalam bab ini [yang dibincangkan sebelumnya], iaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Ahmad ibn ‘Ali al-Khatib didalam kitabnya as-Saabiq wa al-Laahiq dan Abu Hafs ‘Umar ibn Syahin didalam kitab al-Naasikh wa al-Mansuukh, dengan isnad keduanya itu daripada Saiyidatina ‘Aisyah رضي الله عنها , beliau berkata: Nabi صلى الله عليه وآله وسلم mengerjakan haji wada, maka membawaku melewati ‘Aqabah al-Hujuun [Ma’ala], baginda kelihatan sedih dan murung. Lalu akupun ikut menangis kerana tangisan baginda. Kemudian baginda turun dari tunggangannya dan berkata kepada: Tunggulah disini sebentar. Maka aku bersandar dekat unta. Setelah jarak masa yang panjang, baginda kembali dalam keadaan senyum gembira. Maka aku berkata kepada baginda: Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah! Tadi ketika bersamaku, engkau kelihatan sedih sehingga aku turut menangis kerana tangisanmu, wahai Rasulullah. Kemudian engkau kembali kepadaku dengan tersenyum gembira, apa yang terjadi wahai Rasulullah? Maka baginda bersabda: Aku telah melawati kubur ibuku Aminah, kau bermohon kepada Allah, Tuhanku agar Dia menghidupkan dia [Aminah] kembali, maka Dia menghidupkan kembali lalu dia beriman kepadaku dan [kemudian] mewafatkan dia kembali – lafaz hadits ini daripada al-Khatib. As-Suhailiy telah menyebut didalam Raudah al-Unfi dengan sanad yang padanya terdapat perawi-perawi yang tidak dikenali (majhul): Bahwasanya Allah Ta’ala telah menghidupkan bagi baginda Rasululah صلى الله عليه وآله وسلم ayah dan ibu baginda dan mereka berdua beriman kepadanya.
Berkata Imam al-Qurthubi: Tiada pertentangan (mengenai masalah ini) kerana peristiwa dihidupkannya semula ini diriwayatkan oleh ‘Aisyah terkemudian dari hadits memohon izin untuk beristighfar buat ibu baginda. Sesungguhnya yang demikian itu terjadi ketika haji wadaa’. Maka Ibn Syahin telah menjadikan hadits ini sebagai pemansukh bagi hadits larangan tadi.
Maka difahami dari pendapat Ibn Syahin dan Imam al-Qurtubi tersebut, bahwa hadits ihya’ itu tidaklah maudhu’ kerana, bagaimana boleh hadits maudhu’ memansukhkan hadits lain??????

Dan menurut Dr ‘Ali Jum’ah, Mufti Mesir didalam al-Bayan pula:

“… pada hadits tersebut tidak terdapat pengungkapan yang tegas bahawa ibu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di dalam neraka. Tidak mendapat izin untuk memohonkan ampun tidak bererti menunjukkan bahawa dia musyrik. Jika tidak, tentu tidak mungkin Tuhannya mengizinkan untuk menziarahi kuburnya, kerana tidak boleh menziarahi kubur orang-orang musyrik dan berbakti kepada mereka”.
Manakala Dr. Abdul Malik Abdurrahman al-Sa’adi pula berkata:
“… baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم tidak diizinkan itu, bukanlah bermaksud bahwa dia (ibu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) daripada ahli neraka. Mungkin tidak diizinkan itu, kerana tidak terdapat dosa pada ibu baginda, kerana dia belum lagi dianggap mukallaf, maka tidak dicatit dosa-dosa untuknya.
Maka disimpulkan sebagaimana disebut oleh Dr ‘Ali Jum’ah, bahawa pendapat yang kuat adalah bahawa kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم itu selamat (tidak termasuk neraka), bahkan juga seluruh nenek moyang baginda. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita cinta kepada Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dan mengenal darjat kedudukannya dengan baik serta beradab dengan baginda agar terhindar kita dari keceluparan dalam memperihalkan mengenai ibuayah baginda.
InsyaAllah al-Faqir akan menyambung lagi bahagian terakhir dari tajuk ini …….
اَلَّلهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا وَالحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مَنْ أَحْوَالِ أَهْلِ النَّارِ
Perbahasan tentang bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم
 http://www.salafytobat.wordpress.com

TENTANG MAULID

Puji syukur Alhamdulillah hirobil ‘alamin marilah kita panjatkan kehadlirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya.
Sholawat serta salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, yang selalu kita nantikan syafa’at-nya di Hari Kiamat. Amin.
Amalan umat islam ahlusunnah wal jamaah pada saat “maulid”
- Perintah mengingati Hari – Hari Allah (12 rabiul awwal adalah hari lahir, hijrah (nabi sampai di madinah) dan wafat nabi Muhammad SAW)


[14:5] Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah781. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (QS Ibrahim 5)
(Hari/peristiwa dimana Allah memberikan Nikmat kepada Orang-orang yang beriman dan Hari/peristiwa dimana Allah menimpakan azab bagi orang orang kafir)
Ketahuilah bahwa maulid /kelahian Nabi adalah Nikmat terbesar bagi semua Makhluq!!
- membaca sirah/kisah Nabi Muhammad SAW (Dalam bentuk syair maupun bayan/ceramah)

Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman

[11:120] Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS Hud 120)
- Membaca shalawat.
Bahkan Allah SWT dan para malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW :

[33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Surat Al-ahzab 56)
Sebagaimana diketahui, setiap tanggal 12 Rabiul Awal, kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini dimaksudkan untuk mengingat tiga peristiwa besar yang dialami oleh Rasulullah SAW, yakni kelahiran, Hijrah dan wafatnya Muhammad SAW.


Mengenai Maulid Lagi

Tersebut di dalam kitab I’anathuth Tholibin oleh Sayyidisy-Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi:-
Telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlid ar-Rasul”.
Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “Sesiapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”.
Kata-kata ulama ini juga boleh didapati didalam kitab an-Nafahatul Miskiyyah fi fadhilathi qiraati maulidi khairil bariyyah karangan asy-Shaikh Muhammad bin Abdullah as-Suhaimi dan juga terjemahannya yang bertajuk Hembusan Kasturi oleh Fadhilatul Ustaz Taha as-Suhaimi.
Selain itu bagi menjawab tohmahan mereka kononnya ulamak silam mencerca sambutan ini, kita bawakan kata-kata yang jelas dari tiga ulamak yang kehebatan mereka diakui semua.
1) Al-Imam al-Hujjah al-Hafiz as-Suyuthi:

Di dalam kitab beliau, al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau mengatakan: Telah ditanya tentang amalan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala atau tidak?
Dan jawapannya di sisiku: Bahawasanya asal kepada perbuatan maulid, iaitu mengadakan perhimpunan orangramai, membaca al-Quran, sirah Nabi dan kisah-kisah yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya kerana padanya mengagungkan kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم dan menzahirkan rasa kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.
2) Syeikh Ibn Taimiyah : “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, beliau nyatakan: Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…”
Seterusnya beliau nyatakan lagi : “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya.”

Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai: “Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”
3) Syeikhul Islam wa Imamussyurraah al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani: Berkata al-Hafiz as-Suyuthi dalam kitab yang disebutkan tadi: Syeikhul Islam Hafizul ‘Asr Abulfadhl Ibn Hajar telah ditanya tentang amal maulid, dan telah dijawab begini: “Asal amal maulid (mengikut cara yang dilakukan pada zaman ini) adalah bid’ah yang tidak dinaqalkan dari salafussoleh dari 3 kurun (yang awal), walaubagaimanapun ia mengandungi kebaikan serta sebaliknya. Maka sesiapa yang melakukan padanya kebaikan dan menjauhi yang buruk, ia merupakan bid’ah yang hasanah.
Telah jelas bagiku pengeluaran hukum ini dari asal yang tsabit iaitu apa yang tsabit dalam shahihain (shahih al-Bukhari dan shahih Muslim) bahawa Nabi صلى الله عليه وسلم ketika tiba di Madinah mendapati orang Yahudi berpuasa Asyura’, lalu baginda bertanya kepada mereka (sebabnya). Mereka menjawab: Ia merupakan hari ditenggelamkan Allah Fir’aun dan diselamatkan Musa, maka kami berpuasa kerana bersyukur kepada Allah. Maka diambil pengajaran darinya melakukan kesyukuran kepada Allah atas apa yang Dia kurniakan pada hari tertentu, samada cucuran nikmat atau mengangkat kesusahan.”
Seterusnya beliau berkata lagi: Dan apakah nikmat yang lebih agung dari nikmat diutuskan Nabi ini صلى الله عليه وسلم, Nabi Yang Membawa Rahmat, pada hari tersebut? Dan ini adalah asal kepada amalan tersebut. Manakala apa yang dilakukan padanya, maka seharusnya berlegar pada apa yang difahami sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala samada tilawah, memberi makan, sedekah, membacakan puji-pujian kepada Nabi, penggerak hati atau apa sahaja bentuk kebaikan dan amal untuk akhirat.”
Inilah istinbat-istinbat yang dikatakan oleh mereka yang menentang sambutan maulid (anti-maulid) sebagai istidlal yang bathil serta qias yang fasid, lalu mereka mengingkarinya. Cukuplah bagi kita memerhatikan siapakah yang mengingkari dan siapa pula yang mereka ingkari!!!
PERINGATAN MAULID NABI SAW

ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).
Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia.
Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw. Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
• Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
• Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162).
dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa. Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?,
dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa. Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu. Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.
Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai
Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.
Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.
Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).
Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa yg dimaksud Al Hafidh adalah mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan yg disebut Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.
1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata :
“hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN
ANUGERAH PADA ORANG  ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)
2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun,
dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus
mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid” .
3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.
4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah
demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.
5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy
dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab
6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.
7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”
8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya” .
9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyya h juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad
yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”
11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”
12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”
13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”
14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
15. Imam assyakhawiy dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’
dg maulidnya addiba’i
18. Imam ibn hajar al haitsami dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam
19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala
maulid ibn hajar
20. Al Allamah Ali Al Qari’ dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi
21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji
23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad
24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’
25. Imam Ibrahim Assyaibaniy dg maulid al maulid mustofa adnaani
26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”
27. Syihabuddin Al Halwani dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif
28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar
29. Asyeikh Ali Attanthowiy dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa
30. As syeikh Muhammad Al maghribi dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid,
maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.
Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari kerinduan pada Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.
Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang,
namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan. (Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)
Namun sehebat apapun pendapat para Imam yg melarang berdiri untuk menghormati orang lain, bisa dipastikan mereka akan berdiri bila Rasulullah saw datang pada mereka, mustahil seorang muslim beriman bila sedang duduk lalu tiba tiba Rasulullah saw datang padanya dan ia tetap duduk dg santai..
Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas
dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri
untuk memuliakan beliau saw. Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau
saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.
Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah
hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan
tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,
Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)
Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin
aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.  contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya
berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib .
contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.
Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi
wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.
Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’ anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya
sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.