24 Des 2010

Seputar Bola

Profil Timnas Indonesia

mengabarkan berita sepak bola dari berita pemain, hasil dan skor pertandingan, dan berita sepak bola dari liga sepak bola di seluruh dunia. Pada kesempatan kali ini berita sepak bola terlengkap akan mengabarkan berita sepak bola dari Profil lengkap Timnas Indonesia di Piala AFF 2010. Piala AFF yang sudah bergulir kini telah memasuki Macthday ke 3, dimana akan mempertemukan Tim kebanggaan qt semua yaitu Timnas Indonesia yang akan bermain melawan tim tangguh Thailand. Kendati Timnas Indonesia sudah dipastikan masuk ke babak selanjutnya, Timnas Indonesia harus tetap fokus karena lawannya bukan lawan sembarangan yaitu Timnas Thailand. Berita sepak bola terlengkap akan memberikan profil lengkap Timnas Indonesia, berikut Profil lengkapnya.

Profil Lengkap Timnas Indonesia Di Piala AFF 2010





Pelatih timnas senior Alfred Riedl telah menetapkan 25 pemain yang akan memperkuat tim Merah Putih di Piala AFF 2010 pada 1-29 Desember mendatang di Jakarta dan Hanoi.

Deputi bidang teknis Badan Tim Nasional [BTN] PSSI Iman Arif mengatakan, ke-25 pemain itu tidak mengalami perubahan hingga pelaksanaan Piala AFF nanti. Pergantian hanya dilakukan bila ada pemain yang mengalami cedera.

Fhoto Timnas Indonesia





Kapan PSSI Ikut Piala Dunia? Tanya SBY

Kapan PSSI Ikut Piala Dunia? Tanya SBY

Presiden SBY dan Menko Perekonomian saat nonton bareng Piala Dunia, di Hoel InterContinental, Jimbaran, Bali, Jumat (11/6) malam. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY dan Menko Perekonomian saat nonton bareng Piala Dunia, di Hoel InterContinental, Jimbaran, Bali, Jumat (11/6) malam. (foto: anung/presidensby.info)
Jimbaran, Bali: Saat jeda babak pertama pertandingan sepakbola antara Afrika Selatan melawan Meksiko, Presiden Susilo Bambag Yudhoyono beranjak dari kursinya dan bertanya kepada wartawan, "Kapan PSSI masuk Piala Dunia?" Pertanyaan itu disambut tawa yang hadir.

23 Des 2010

Dalam pencarian seorang anak lama hilang

TRESSA Reeves dilahirkan Maria Teresa Donnelly di Inggris ke Irlandia, ayah dan ibu Inggris.

Pada tahun 1960, pada usia 20 dan belum menikah, dia menjadi hamil. She had been involved in a 
relationship with an older man which did not last. Dia telah terlibat dalam hubungan dengan seorang pria tua yang tidak terakhir.

Given the stigma which surrounded unmarried mothers and so-called "illegitimate" children at the time, Tressa's mother made arrangements with nuns in their local convent in England and she was sent to Dublin to enable the birth to be hidden from neighbours and relatives and be placed for adoption. Mengingat stigma yang dikelilingi ibu yang tidak menikah dan apa yang disebut "tidak sah" anak-anak pada waktu itu, ibu Tressa terbuat pengaturan dengan biarawati di biara lokal mereka di Inggris dan dia dikirim ke Dublin untuk memungkinkan melahirkan disembunyikan dari tetangga dan sanak saudara dan ditempatkan untuk adopsi.


Many years later in her home in Penzance in England, Tressa, now married and with other children and grandchildren, acknowledges that once she had left for Ireland, the topic of her son was never spoken of by her parents ever again. Bertahun-tahun kemudian di rumahnya di Penzance di Inggris, Tressa, sekarang menikah dan dengan anak-anak lain dan cucu, mengakui bahwa sekali ia telah meninggalkan untuk Irlandia, topik anaknya tidak pernah diucapkan oleh orang tuanya lagi.


"I never spoke to them about it, ever. I could have been gone shopping for four months. It was never talked about," she says. "Saya tidak pernah berbicara kepada mereka tentang hal itu, pernah. Aku bisa saja pergi berbelanja selama empat bulan itu. Tidak pernah berbicara tentang," katanya.


To understand the stigma around births outside marriage at the time, one statistic is enlightening. Untuk memahami stigma sekitar kelahiran di luar nikah pada saat itu, satu statistik yang mencerahkan.
In 1967, 97% of all children born outside of marriage in Ireland were placed for adoption. Pada tahun 1967, 97% dari semua anak lahir di luar perkawinan di Irlandia ditempatkan untuk diadopsi.

Tressa had presumed her child was to be legally adopted like so many others. Tressa telah dianggap anaknya itu secara hukum diadopsi seperti banyak orang lain.
However, that was not the case. Namun, itu tidak terjadi.

Kesaksian Mantan Biarawati tentang Imoralitas Oknum Imam

Berikut ini dikutip dari "Catholic Church Stung by Autobiography," The Independent, London, Feb. 20, 2009: "Cerita seorang mantan biarawati yang mendetilkan hubungan gelap, pelecehan seksual dan pemalakan di biara tempat ia menjalani hidupnya selama tiga dasawarsa, menimbulkan kegemparan di gereja Katolik di Kerala, sebuah negara bagian India di daerah selatan. Dalam buku "Amen – an Autobiography of a Nun," suster Jesme mengatakan bahwa ketika dia menjadi seorang biarawati, dia menemukan imam-imam yang memaksa para novice (gadis-gadis yang sedang menunggu untuk menjadi biarawati) untuk berhubungan seks dengan mereka. Juga ada hubungan homoseksual yang rahasia di antara para biarawati dan suatu ketika dia pernah dipaksa untuk masuk dalam hubungan seperti itu dengan biarawati lain yang mengatakan bahwa ia lebih suka yang seperti demikian karena tidak mungkin menjadi hamil. `Saya mau mengekspresikan perasaan saya dan menjelaskan apa yang terjadi pada saya....Saya mau orang-orang untuk tahu bagaimana saya telah menderita,' dia bercerita kepada The Independent tadi malam, berbicara dari kota Kozhikode......Suster Jesme, yang tahun lalu turun dari posisi kepala sekolah sebuah sekolah tinggi Katolik di Thrissur, mengklaim bahwa para suster senior berusaha untuk memasukkan dia ke dalam institusi sakit jiwa setelah dia bersuara melawan mereka.....Kemarin malam, seorang juru bicara ordo Syro-Malabar dari Roma Katolik, Dr. Paul Thelakkat, mengacuhkan semua tuduhan Suster Jesme sebagai sebuah "buku hal-hal yang remeh." `Itu adalah pengalaman dia, tetapi hal-hal seperti ini bisa saja masuk ke dalam kehidupan komunitas,' dia menjelaskan. Ketika ditanya apakah gereja syok oleh semua tuduhan tersebut, ia menjawab: `Sama sekali tidak. Gereja tahu akan hal-hal ini.'" sumber
Kristen Pun Bingung

Natalan Bukan Milik Yesus, tapi Hari Ulang Tahun Kelahiran Dewa Kafir

Bagi umat Kristen, Natal 25 Desember adalah hari besar yang dirayakan dengan sepenuh suka cita dan kemeriahan. Hari ini diyakini sebagai peristiwa kelahiran Yesus Kristus ke dunia (Dies Natalis of Jesus Christ). Peringatan ini menjadi penting, karena mereka meyakini Yesus sebagai tuhan dan juru selamat. Dengan kata lain, perayaan Natal bagi umat kristiani adalah memperingati hari ulang tahun kelahiran tuhan.
Mengapa mereka merayakan hari ulang tahun kelahiran Yesus tanggal 25 Desember? Apakah Yesus benar-benar lahir tanggal 25 Desember?
Sebenarnya, semua teologi Kristen sepakat bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Meski demikian, para teologi berselisih pendapat mengenai tanggal lahir Yesus.
1. Yesus lahir tanggal 14 Maret SM?
Ralph O. Muncaster, pendeta gereja Saddleback dalam bukunya ‘What Really Happe­ned Charistmas Morning’ menolak pendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 1 Masehi dengan merujuk kepada pendapat para ahli lainnya. Menurut Josephus (sejarawan Yahudi), Yesus lahir pada tanggal 14 Maret tahun 4 Sebelum Masehi. Berdasarkan observasi astro­no­­­mis Johannes Kepler, Yesus lahir tahun 7 Sebelum Masehi. Sedangkan Tertulian, Irenaeus, Eusebius (bapak gereja) berpendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 2 Sebelum Masehi.
2. Yesus Lahir Bulan April atau November?
Dr. J.L. Ch. Abineno menjelaskan bahwa Yesus mustahil lahir 25 Desember. Menurutnya, Yesus lahir pada bulan Maret, April atau November.
“Gereja-gereja merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Kebiasaan ini baru dimulai dalam abad ke-4. Sebelum itu Gereja tidak mengenal perayaan Natal. Terutama karena gereja tidak tahu dengan pasti kapan –pada hari dan tahun keberapa– Yesus dilahirkan. Kitab-kitab Injil tidak memuat data-data tentang hal itu. Dalam Lukas pasal 2 dikatakan bahwa pada waktu Yesus dilahirkan, gembala-gembala sedang berada di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (ayat 8). Itu berarti, bahwa Yesus dilahirkan antara bulan Maret atau April dan bulan November” (Buku Katekisasi Perjanjian Baru, hal. 14).
3. Yesus Lahir Bulan September?
Pendeta Benyamin Obadyah, alumnus Jerusalem Center, Yerusalem, mengutip pendapat R.A. Honorof dalam bukunya The Return of the Messiah (1997), menyatakan bahwa Yesus lahir pada bulan September. Benyamin menulis: “Meskipun menurut Alkitab Yesus dikandung Maria dari karunia Allah (Lukas 1:35), tapi ia dikandung secara normal selama 40 minggu atau 9,5 bulan. Ini berarti, Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan Hari Raya Tabernakel... Hari raya ini jatuh setiap tanggal 15 bulan Tishri menurut kalendar Yahudi. Menurut kalendar internasional (Gregorian), tahun 1999 tanggal 15 Tishri bertepatan dengan tanggal 25 September. Jadi, umat Kristen yang memperingati Natal 25 Desember terlambat selama tiga bulan.”
4. Yesus Lahir Bulan Januari?
Ephiphanius dan Gereja Orthodox Timur memperingati Natal tanggal 6 Januari, lalu Gereja Katolik Ortodoks memperingati Natal tanggal 7 Januari, sedangkan Gereja Armenian memperingati Natal tanggal19 Januari.
Dari berbagai versi tanggal Natalan tersebut, tak satupun yang bisa dipercaya. Tabloid Victorius edisi Natal pernah mengungkapkan keheranannya tentang Natal yang misterius: “Entah kapan dan siapa tokoh pencetus hari Natal, hingga sekarang masih dicermati. Dan apa benar tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Yesus Kristus? Hal ini masih misterius”.
Karena kesimpangsiuran tanggal kelahiran Yesus itulah, seorang muallaf Wencelclaus Insan Mokoginta berani membuat sayembara terbuka berhadiah mobil BMW. “Jika ada yang bisa menunjukkan dalil dalam Alkitab bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dan perintah untuk merayakannya, kami sediakan hadiah mobil BMW dan uang tunai 10 juta rupiah,” tulis Wencelclaus dalam buku Mustahil Kristen Bisa Menjawab.
Mengapa Natalan tanggal 25 Desember?
Gereja-gereja Barat merayakan Natal tiap tanggal 25 Desember karena mendapat pengaruh dari Roma. Setelah melalui perjalanan yang panjang, akhirnya sebagian besar gereja di dunia mengikuti tradisi Roma.
Mengapa 25 Desember? Latar belakang perayaan Natal berasal dari kebudayaan bangsa Romawi. Tanggal 25 Desember dipilih sebagai hari Natal Yesus semata-mata mengadopsi tradisi pagan, untuk menyesuaikan dengan hari perayaan penyembahan berhala yang populer pada saat itu.
Sebab 25 Desember adalah Natal dua dewa terkemuka pada masa purba, yaitu perayaan kelahiran Dewa Matahari bangsa Roma yang dikenal dengan perayaan Solis Invictus (matahari yang tak terkalahkan) dan Dewa Mithras (dewa matahari kebenaran dan kebijakan). Perayaan ini sangat berpengaruh dalam kebudayaan dan keagamaan di kekaisaran Romawi, sejak abad ke-10 hingga 7 sebelum Yesus lahir (Sebelum Masehi).
Perayaan Roman Saturnalia, suatu perayaan untuk menghormati Saturnus, Dewa Pertanian dan Pembaruan Kuasa Matahari, juga berlangsung pada tanggal 25 Desember.
Sejak abad ke-4 Masehi, Gereja Katolik mencaplok 25 Desember sebagai Natal Yesus Kristus untuk menggeser pesta kafir tentang perayaan kelahiran dewa, diganti sebagai natal Yesus sang pembawa terang. Dengan inkulturasi seperti ini, mereka berharap agar para paganis dengan mudah beralih menjadi penganut Kristen. Makanya, beberapa kebiasaan yang terdapat pada perayaan Natal, diperkirakan berakar dari perayaan penyembahan berhala-berhala ini.
Kaisar Constantin Agung berusaha mempersatukan berbagai golongan dan agama guna keseimbangan politis dan agamawi di kekaisarannya. Maka diperkenalkanlah tadisi Natal pertama kali di Roma tanggal 25 Desember 336 yang menggabungkan tradisi penyembahan matahari dalam Mithraisme dengan tradisi perayaan kelahiran Yesus dalam Kristen. Sejak saat itulah 25 Desember diadopsi perlahan-lahan untuk merayakan Natal kelahiran Yesus. Otomatis, latar belakang Mithraisme pada perayaan Sol Invictus masih melekat. Misalnya, matahari yang disembah dalam perayaan Sol Invictus, diganti dengan simbol bahwa Yesus adalah Sang Matahari Kebenaran Penerangi Dunia.
Untuk menampik tudingan perayaan tradisi kafir, biasanya para penginjil berkilah, “Kalau kini Natal dirayakan sepenuhnya untuk kepentingan rohani dan setiap orang Kristen dapat bertumbuh dewasa karenanya, maka kaitannya dengan sejarah agama purba itu tentu saja bisa diabaikan” (Majalah Kristen Rajawali edisi Desember Th. XII no. 12 hlm. 16).
Alasan ini sudah tidak relevan. Jauh-jauh hari Herbert W Armstrong (1892-1986), Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat,  telah membantahnya dengan mengutip Catholic Encyclopedia: “Sinners alone, not saints, celebrate their birthday.” Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka!!

sumber voice of al-islam

Kenapa Kristen Menentang ???

Ada Apa Dengan Kristen ???

Aneh!! Umat Kristen Menentang Perda Anti Maksiat, Miras & Pelacuran

Secara membabi buta, pihak Nasrani menyatakan sikap phobinya terhadap formalisasi Syariat Islam di berbagai daerah. Majalah Spektrum edisi Oktober 2010 menyuarakan alerginya terhadap Syariat Islam dengan headline “Negara Islam Indonesia Tinggal Selangkah Lagi.” Majalah yang mengusung slogan “Media Kristen Pilihan Umat” ini  mengklaim formalisasi Syariat Islam sebagai alat kekuasaan untuk menindas kaum